Kamis, 18 Maret 2010

Character Building # part 1: Tes kepribadian anda!

Sangunis, Melankolis, Koleris, Plegmatis.

Agustus 30, 2007 trackback
edited by Hendra Kurniawan



Dengan bertambahnya usia, pengalaman, dan kedewasaan, hasil tes akan bisa berubah. Tiap saat kita berhadapan dengan bermacam-macam situasi. Terutama ketika berhubungan dengan orang lain. Sebagai pemimpin, mengertikah kita bagaimana cara `membakar’ motivasi para pegawai? Sebagai pasangan yang sedang bercinta, seberapa sering kita bingung oleh watak "keras kepala" pasangan kita sendiri? Tak jarang pula, sebagai suami, kita terus-terusan bertengkar dengan istri yang padahal juga kita sayangi dan cintai?Adakah `zat kimia’ tertentu atau pola tertentu yang mempengaruhi sifat, sikap dan reaksi kita dan merasa dalam menghadapi berbagai situasi… sehingga kita bisa lebih berdamai dan mengerti mengapa semua reaksi itu terjadi? Bukankah akan lebih nikmat hidup ini kalau kita satu sama lain saling memahami?

Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Kalau saja semua sudah kita pahami, kita akan sangat terbantu sekali dalam berhubungan dengan orang lain. Kita akan jadi mengerti mengapa suami kita tiba-tiba marah sekali ketika meja kerjanya yang berantakan kita atur rapi. Kita juga akan mudah memahami mengapa pegawai kita gampang sekali berjanji… dan hebatnya dengan mudah pula ia melupakannya, “Oh ya, saya lupa”katanya sambil tertawa santai. Kita juga akan mudah mengerti mengapa istri kita nggak mau dengar sedikitpun pendapat kita, tak mau kalah,cenderung mempertahankan diri, selalu merasa benar dengan pendapatnya dan makin sengit bertengkar kalau kita mau coba-coba untuk mengalahkannya. Kategori tersebut antara lain:

Pertama, tipe Sanguinis (“Yang Populer”). Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senangsekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu. Namun, orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur. Jika suatu kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin planning/rencana. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apapun juga.

Kedua, tipe melankolis (“Yang Sempurna”). Agak berseberangan dengan sang sanguinis. Cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan, namun orang melankoli cenderung menganalisa, memikirkan, mempertimbangkan, lalu kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali. Orang melankoli selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin teratur. Karena itu jangan heran jika balita anda yang `melankoli’ tak `kan bisa tidur hanya gara-gara selimut yang membentangi tubuhnya belum tertata rapi. Dan jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah disusun istri `melankoli’ anda, sebab betul-betul ia tata-apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis pakaian tersebut. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu tiba-tiba jadi lain.

Ketiga, tipe Koleris (“Yang Kuat”). Mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan tamu pun bisa saja ia `suruh’ melalukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang terkesan `bossy’ itu membuat banyak orang koleris tak punya banyak teman. Orang-orangberusaha menghindar, menjauh agar tak jadi `korban’ karakternya yang suka mengatur dan tak mau kalah itu. Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, “hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya berantakan semua”. Karena itu mereka sangat “goal oriented”,tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan semangat “ya pasti jadi…” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah.

Keempat, tipe Phlegmatis (“Cinta Damai”). Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri nggak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya nggak terus berkepanjangan. Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah parapendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis. Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Ibarat keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. Jadi kalau anda punya staf atau pegawai phlegmatis, andaharus rajin memotivasinya sampai ia termotivasi sendiri oleh dirinya.



Mencoba Mengerti Orang Lain

Sekarang, anda masuk golongan mana? Coba amati istri, suami atau anak-anak anda, mereka golongan apa? Jangan-jangan anda sekarang mulai mengerti mengapa suami-istri-anak-rekan anda bertingkahlaku “seperti itu” selama ini. Dan anda pun akan tertawa sendiri mengingat-ingat berbagai perilaku dan kejadian selama ini. Apakah persis begitu? Tentu saja tidak.

Florence Litteur, berdasarkan penelitiannya bertahun-tahun telah melihat bahwa ternyata keempat watak itu pada dasarnya juga dimiliki setiap orang. Yang beda hanyalah `kadar’nya. Oleh sebab itu muncullah beberapa kombinasi watak manusia. Ada orang yang tergolong Koleris Sanguinis. Artinya kedua watak itu dominan sekali dalam mempengaruhi cara kerja dan pola hubungannya dengan orang lain. Di sekitar kita banyak sekali orang-orang koleris sanguinis ini. Ia suka mengatur-atur orang, tapi juga senang bicara (dan mudah juga jadi pelupa).

Ada pula golongan Koleris Melankolik. Mungkin anda akan kurang suka bergaul dengan dia. Bicaranya dingin, kalem, baku, suka mengatur, tak mau kalah dan terasa kadang menyakitkan (walaupun sebetulnya iatak bermaksud begitu). Setiap jawaban anda selalu ia kejar sampai mendalam. Sehingga kadang serasa diintrogasi, sebab memang ia ingin sempurna, tahu secara lengkap dan agak dingin. Menghadapi orang koleris melankolik, anda harus fahami saja sifatnya yang memang `begitu’ dan tingkatkan kesabaran anda. Yang penting sekarang anda tahu, bahwa ia sebetulnya juga baik, namun tampak di permukaan kadang kurang simpatik, itu saja.

Lain lagi dengan kaum Phlegmatis Melankolik. Pembawaannya diam, tenang, tapi ingat… semua yang anda katakan, akan ia pikirkan, ia analisa. Lalu saat mengambil keputusan pastilah keputusannya berdasarkan perenungan yang mendalam dan ia pikirkan matang-matang.

Banyak lagi tentunya kombinasi-kombinasi yang ada pada tiap manusia. Akan tetapi yang penting adalah bagaimana memanfaatkannya dalam berbagai aktivitas hidup kita. Jika suami istri saling mengerti sifat dan watak ini, mereka akan cenderung berusaha `memaafkan’ pasangannya. Lalu berusaha untuk menyikapinya secara bijaksana.

Begitu pula saat menerima calon pegawai. Untuk bidang-bidang yang membutuhkan tingkat ketelitian dan keteraturan yang tinggi, jauh lebih baik anda tempatkan orang-orang yang melankolik sempurna. Sedang di bagian promosi, iklan, resepsionis, MC, humas, wiraniaga, tentu jauh lebih tepat anda tempatkan orang-orang sanguinis. Lalu jangan posisikan orang-orang phlegmatis di bagian penagihan ataupun penjualan. Hasilnya pasti akan amat mengecewakan.

Manusia memang sangat beragam. Muncul sedikit tanda tanya, di antara semua watak itu, mana yang paling baik? Jawabannya, menurut Florence, tak ada yang paling baik. Semuanya baik. Tanpa orang sanguinis, dunia ini akan terasa sepi. Tanpa orang melankoli, mungkin tak ada kemajuan di bidang riset, keilmuan dan budaya. Tanpa kaum koleris, dunia ini akan berantakan tanpa arah dan tujuan. Tanpa sang phlegmatis, tiada orang bijak yang mampu mendamaikan dunia.

Yang penting bukan mana yang terbaik. Sebab kita semua bisa mengasah keterampilan kita berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill). Seorang yang ahli dalam berurusan dengan orang lain, ia akan mudah beradaptasi dengan berbagai watak itu. Ia tahu bagaimana menghadapi sifat pelupa dan watak acaknya kaum sanguinis, misalnya dengan memintanya untuk selalu buat rencana dan memintanya melakukansegera. Ia jago memanas-manasi (menantang) potensi orang koleris mencapai goal-nya, atau `membakar’ sang phlegmatis agar segera bertindak saat itu juga.”Inilah seninya”, kata Florence “dalam berinteraksi dengan orang lain”. Tentu saja awalnya adalah, “Anda dulu yang harus berubah”. Belajarlah jadi pengamat tingkah laku manusia.

8 Kecerdasan Manusia

October 27, 2007 ·
Posted by Bayu Mukti Posted in Pendidikan
edited by Hendra Kurniawan in Margin

Manusia memiliki kecerdasan yang dapat dibedakan menjadi 8. Dalam istilah yang lebih populer, kedelapan kecerdasan yang dimiliki oleh manusia itu adalah:

1.Kecerdasan Linguistik : Word Smart

Adalah kecerdasan menggunakan kata-kata secara efektif. Kecerdasan ini sangat berguna bagi para penulis, aktor, pelawak, selebriti, radio dan para pembicara hebat. Kecerdasan juga membantu kesuksesan kariernya di bidang pemasaran dan politik.

Coba anda periksa kepribadian di bawah ini, mana yang merupakan kepribadian anda:

- Suka menulis kreatif di rumah.

- Senang menulis kisah khayal, lelucon dan cerpen.

- Menikmati membaca buku di waktu senggang.

- Menyukai pantun, puisi dan permainan kata.

- Suka mengisi teka-teki silang atau bermain scrable.

Yang manakah kemampuan linguistik anda ??

Jika kamu di sekolah, kampus banyak bicara dan kurang memperhatikan pelajaran atau menikmati menulis puisi di rumah tapi tidak mengerjakan PR, senang bercerita. Kamu mepunyai kecerdasan linguistik. Kembangkanlah potensimu terus. Suatu saat kamu akan menjadi seseorang yang hebat.

2. Kecerdasan Logis- Matematis : Number Smart

Kecerdasan yang satu ini adalah ketrampilan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika dan akal sehat. Ini adalah kecerdasan yang digunakan ilmuwan untuk membuat hipotesa dan dengan tekun mengujinya dengan eksperimen. Ini juga kecerdasan yang digunakan oleh Akuntan pajak, pemrogaman komputer dan ahli matematika.

Coba periksa ketrampilan yang ada pada anda saat ini:
- Menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala.

- Menikmati menggunakan bahasa komputer atau progam software logika

- Ahli bermain catur, dan permainan strategi lainnya

- Menjelaskan masalah secara logis

-Merancang Eksperimen

-Suka bermain teka-teki logika

- Mudah memahami sebab-akibat

- Menikmati pelajaran matematika dan IPA serta mendapatkan prestasi yang bagus

Kemampuan logis yang manakah yang saya miliki ?

Inilah kecerdasan yang dikaitkan dengan kecerdasan dalam bersekolah. Jika kamu memiliki kecenderungan kutu buku, mendapat nilai tinggi IPA, menikmati dan berinteraksi dengan komputer, mencoba mencari jawaban yang sulit, maka Kamu berbakat besar dalam kecerdasan ini. Kembangkan terus, suatu saat kamu akan menjadi seorang ilmuwan, akuntan, insinyur, ahli pemrogaman komputer atau mungkin filosofi.

3. Kecerdasan Spasial : Picture Smart

Ini adalah kecerdasan gambar dan bervisualisasi. Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk menvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk 2 atau 3 dimensi. Seniman atau pemahat serta pelukis memiliki kecerdasan ini dalam tingkat tinggi.

Coba periksa ketrampilan yang menurut kamu ada pada diri kamu:

- Menonjol dalam kelas seni kelas.

- Mudah membaca peta, grafik dan diagram.

- Menggambar sosok orang atau benda persis aslinya

- Mencoret-coret di atas kertas

- Lebih mudah memahami lewat gambar daripada lewat kata-kata ketika sedang membaca.

Jadi yang manakah kemampuan spasial yang anda miliki ??

Seandaianya kamu menonjol dalam kecerdasan ini, kembangkanlah. Karena suatu saat kamu bisa jadi pelukis, pemahat, designer, dan perancang bangun.

4. Kecerdasan Kinestetik- Jasmani : Body Smart

Kecerdasan jasmani adalah kecerdasan seluruh tubuh (atlet, penari, seniman, pantomim aktor) dan juga kecerdasan tangan (montir, penjahit, tukang kay, ahli bedah)

Coba anda piilih ketrampilan yang ada pada diri anda:

- Bergerak-gerak ketika sedang duduk

- Terlibat dalam kegiatan fisik seperti renang, bersepeda, hiking atau bermain skate board.

- Perlu menyentuh sesuatu yang ingin dipelajari.

- Menikmati melompat, gulat dan lari.

- Memperlihatkan kerampilan dalam kerajinan tangan seperti kayu, menjahit, mengukir.

- Menikmati bekerja dengan tanah liat, melukis dengan jari, atau kegiatan “kotor” lainnya.

- Suka membongkar sebuah benda kemudian menyusunnya lagi

Lalu kemampuan kinestetik jasmani apa yang anda miliki sekarang ??

Jika anda tidak betah duduk lama-lama dan lebih suka bergerak, menyukai studi lapangan, maka kamu menonjol dalam kecerdasan ini. Maka kembangkanlah terus.

5. Kecerdasan Musikal: Music Smart

Kecerdasan musical melibatkan kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan irama atau sekedar menikmati musik. Dalam bentuknya yang lebih canggih, kecerdasan ini mencakup para diva dan virtuoso piano di dunia seni dan budaya.

Bakat musik adalah sesuatu bakat yang selam ini dibiarkan atau ditelantarkan di sekolah. Jikalau kamu memiliki bakat ini maka ada baiknya mengembangkan di luar lingkungan sekolah.

6. Kecerdasan Antar Pribadi: People Smart

Kecedasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerj untuk orang lain. Kecerdasan ini melibatkan banyak hal, mulai dari kemampuan berempati, kemampuan memimpin, dan kemampuan mengorganisir orang lain.

Nah jika kalian sangat populer di kalangan teman-temanmu dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cepat. Maka kamu berbakat dalam kecerdasan ini. Kembangkanlah, suatu saat kamu akan menjadi seorang pemimpin, konselor, pengusaha atau organiser komunitas.

7. Kecerdasan Intra Pribadi: Self Smart

Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami diri sendiri, kecerdasan untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita sendiri. Kecerdasan ini sangat penting bagi para wira usahawan dan individu lain yang harus memiliki persyaratan disiplin diri, keyakinan, dan pengetahuan diri untuk mengetahui bidang atau bisnis baru.

Jika kamu mampu mengetahui siapa diri kamu sebenarnya, pandai menargetkan dan menentukan target untuk diri sendiri. Kamu percaya diri dan tidak pemalu, maka kamu berbakat dalam kecerdasan ini. Kembangkanlah terus kecerdasan ini karena sangat dibutuhkan dalam kehidupan untuk meraih kesuksesan.

8. Kecerdasan Naturalis: Nature Smart

Kecerdasan naturalis melibatkan kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk alam di sekitar kita: Bunga, burung, pohon, hewan serta flora dan fauna lainny. Kecerdasan ini dibutuhkan di banyak profesi seperti ahli biologi, penjaga hutan, dokter, hewan dan holtikulturalis.

Kita harus ingat bahwa setiap orang memiliki 8 kecerdasan diatas dan setiap harinya digunakan dan dikombinasikannya. Contohnya saja bila pemain sepak bola menggiring bola maka mereka menggunakan kecerdasan kinestetik-jasmani untuk menggiring bola, kecerdasan spasial untuk memvisualisasikan posisi bola setelah lawan menendangnya, dan kecerdasan antar pribadi untuk kerja sama dengan anggota tim lainnya. Akan tetapi mereka memiliki salah satu kecerdasan yang paling dominan yaitu kinestik-jasmani.

Nah sekali lagi untuk menjadi orang yang sukses anda harus bisa mencari dan menemukan kecerdasan yang paling dominan pada diri kamu dan terus mengasahnya agar menjadi talenta dan orang yang sukses dan hebat.

Kamis, 07 Januari 2010

MASALAH KUANTIFIKASI DAN PENGUKURAN DALAM PENELITIAN ANTROPOLOGI

MASALAH KUANTIFIKASI DAN PENGUKURAN

DALAM PENELITIAN ANTROPOLOGI *

(Kajian Metodologis terhadap Karya-Karya Etnografi antara

Tahun 1963 sampai dengan Tahun 2002)

Hendra Kurniawan, 2005

I

Kuantifikasi (quantification) merupakan prosedur yang secara sederhana digunakan dalam sebuah penelitian, dengan tujuan untuk memperluas berbagai macam data tertentu, atau menguatkan interpretasi-interpretasi atau hipotesis melalui beberapa sampel dari data yang berupa angka-angka. Dalam perkembangannya, proses instrumentasi seperti ini sering kali menggunakan kerja komputer untuk membantu metode analisis dengan memperbolehkan hitungan-hitungan frekwensi, tabulasi, dan analisa statistik tingkat rendah yang mungkin dapat dipakai. Lebih spesifik lagi, kuantifikasi gejala atau data digunakan dalam penelitian antropologi,[1] dengan tujuan untuk menguraikan “sebab dan akibat” atau “operasionalisasi hubungan-hungan” secara teoritis, serta “generalisasi temuan”. Kuantifikasi tidak mempelajari dunia sosial secara langsung, atau memperhatikan uraian yang kaya atau detil, karena hal yang detil tersebut dianggap menganggu proses pengembangan generalisasi temuan.[2] Untuk itu, kuantifikasi dianggap sebagai metode untuk mencari pengetahuan etik atau nomotetik berdasarkan pada kemungkinan (probability) yang diperoleh dari kajian sejumlah besar kasus yang dipilih secara acak, sesuai dengan komitmen-komitmen nomotetik dan etik yang menggunakan model matematika, tabel statistik dan grafik, dimana pada umumnya mereka menulis penelitian mereka secara impersonal.

Dalam penelitian antropologi, yang berbasis ilmu-ilmu sosial, pengukuran (measurement) juga sering digunakan sebagai upaya untuk menghubungkan konsep dan realitas sosial. Proses ini bisa agak mudah jika yang hendak diukur dalam penelitian adalah obyek yang kongkrit atau yang tertangkap oleh panca indra manusia, tetapi menjadi lebih sulit jika yang ukur adalah obyek atau kejadian yang abstrak. Secara umum, dalam penelitian sosial, konsep-konsep yang ditelaah adalah mengenai berbagai fenomena sosial yang abstrak, sedangkan dalam penelitian antropologi, kemungkinan besar instrumen pengukur yang digunakan, meskipun tidak selamanya tepat, adalah untuk menangkap dengan tepat realitas yang berkaitan dengan fenomena sosial yang diacu oleh konsep (Singarimbun & Effendi, 1995: 93-95). Meskipun demikian, dalam penelitian-penelitian semacam ini—yang menggunakan instrumen pengukuran dalam menguji hipotesis—akan sangat besar kemungkinan terjadinya salah ukur.

Banyak peneliti antropologi, baik yang menggunakan proses deduktif maupun induktif, masing-masing berpendapat bahwa mereka mengetahui suatu teknik penelitian yang digunakan untuk menceritakan tentang masyarakat pada orang lain dalam berbagai bentuk metode, media dan sarana untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan dan temuan mereka (Becker, 1986: 122). Berkaitan dengan hal ini, banyak peneliti antropologi (pengikut teori kritis, konstruktivis, post-struktural, atau post-modern) menolak kriteria positivistik—yang menggunakan kuantifikasi dan pengukuran—ketika mengevaluasi sebuah penelitian. Kontroversi di kalangan ahli antropologi ini terutama tertuju pada hasil kuantifikasi dan pengukuran yang dilakukan dalam penelitian Murdock (1949) tentang struktur sosial, dimana hasil penelitiannya mengandung data angka yang dipermasalahkan di kalangan sarjana antropologi. Proposisi yang diberikan oleh Murdock untuk meneliti kehidupan sosial adalah secara statistik, sebelumnya merupakan sesuatu yang unik. Dengan menggunakan uji chi kuadrat (c², chi-square test) atas satu kemungkinan kesimpulan yang dibuat dari teori umum, sistem teorinya memusatkan pengamatan pada hubungan antara ciri-ciri istilah “kekerabatan” serta sistem “tingkah laku sosial” yang didalamnya terdapat istilah kekerabatan.

Sehubungan dengan penelitian Murdock (1949) di atas, para peneliti antropologi yang tidak menggunakan metode kuantifikasi dan pengukuran ini melihat bahwa “kriteria-kriteria dalam bentuk ukuran-ukuran dan hitungan-hitungan ini sebagai sesuatu yang tidak relevan bagi pekerjaan mereka” (terutama dalam ilmu-ilmu sosial). Argumentasinya adalah bahwa kriteria-kriteria yang hasilnya dituangkan dalam bentuk angka-angka semacam itu pada dasarnya hanya mereproduksi ilmu pengetahuan tertentu dari berbagai ilmu pengetahuan yang ada, atau dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang tidak menyuarakan apa-apa. Atas dasar kritik ini, para peneliti yang menganggap relevan penggunaan kuantifikasi dan pengukuran, berusaha mencari metode alternatif untuk mengevaluasi pekerjaan mereka yang berhubungan dengan dunia sosial, yang mencakup emosionalitas, tanggung-jawab pribadi, etika atau kepedulian, praksis politis, teks multi-voiced, serta dialog-dialog dengan berbagai subyek.[3]

Mengenai bagaimana kuantifikasi dan pengukuran itu digunakan dalam sebuah penelitian antropologi, lebih jelasnya kita lihat beberapa hasil penelitian dalam bentuk contoh-contoh etnografi, baik yang dipublikasikan melalui media cetak maupun dalam bentuk media elektronik selama tahun 1960-an sampai dengan tahun 2000-an, yang menggunakan atau mencantumkan metode kuantifikasi dan pengukuran dalam penelitian mereka.

II

Contoh-Contoh Etnografi

A. Penelitian Clifford Geertz (1963)

Etnografi ini menunjukkan bahwa statistik pertanian mengenai sektor petani dalam penelitian Clifford Geertz (1963), belum dapat diandalkan (karena sangat langka), terutama mengenai luas tanah garapan maupun produksi tanaman makanan. Hal ini menyebabkan kita mengalami kesukaran untuk mengurutkan dengan tepat bagaimana cara orang-orang Jawa yang diteliti oleh Geertz menangani dilema demografis yang makin mendalam. Meski demikian, sifat dan arah dari adaptasi orang-orang Jawa ini secara keseluruhan adalah jelas, karena Geertz menggunakan tahap-tahap kuantifikasi dari adaptasi orang-orang Jawa yang ia maksudkan dengan “Involusi Pertanian”. Hal ini ia terangkan secara spekulatif, berdasarkan data statistik yang ia cantumkan dalam etnografinya, serta dukungan bukti-bukti yang fragmentaris dan masuk akal (logic).

Bagaimanapun juga, angka-angka mencolok yang digunakan oleh Geertz dalam penelitiannya mengenai involusi pertanian di Jawa, menunjukkan sifat perbandingan dalam menjelaskan titik tertinggi dari ekonomi kolonial di Indonesia pada tahun 1920, yaitu perbandingan antara daerah gula di Jawa dengan jumlah penduduk dan produksi padi yang khas untuk pulau Jawa. Dalam hal ini, kuantifikasi digunakan untuk perbandingan. Proses kuantifikasi yang digunakan dalam perbandingan ini bergerak dari tingkat unit pemerintahan yang lebih kecil, yaitu kawedanaan, kemudian kawedanaan-kawedanaan tertentu. Penjelasan mengenai ini dijelaskan oleh Geertz dalam tabel-tabel berikut:

Tabel A.1. Tanah, Penduduk, dan Produksi Padi yang Khas untuk Daerah Gula di Jawa.pada Tahun 1920

Prosentase (%)

Jumlah

Dari Tanah seluruh Jawa

Dari Sawah seluruh Jawa

Dari Penduduk seluruh Jawa

Dari Produksi Padi seluruh Jawa

Ke-37 Kabupaten-Gula Utama (47% dari jumlah semua kabupaten).

Ke-98 Kawedanaan-Gula Utama (22% dari jumlah semua kawedanaan).

Ke-19 Kawedanaan-Gula yang Terkemuka (4% dari jumlah semua kawedanaan).

34

15

2,6

46

22

4,6

50

24

5,3

49

24

5,2

Sama dengan Prosentase dari Tanah sebagai Dasar Indeks

Ke-37 Kabupaten-Gula Utama.

Ke-98 Kawedanaan-Gula Utama.

Ke-19 Kawedanaan-Gula yang Terkemuka.

100

100

100

131

147

178

143

160

204

140

160

200

Keterangan, Geertz (1963): Susunan pemerintahan di Jawa pada tahun 1920 adalah: propinsi, karesidenan, kabupaten (rata-rata paling sedikit terdiri dari enam kawedanaan), kawedanaan, asistenan (kecamatan).

Angka-angka yang digunakan oleh Geertz menunjukkan bahwa pada “Indonesia Dalam” atau di Jawa sendiri, masih ada lagi satu inti ekologi (paling tidak pada tahun 1920). Daerah gula yang dimaksudkan oleh Geertz, secara proporsi, memiliki: (1) lebih banyak sawah; (2) lebih banyak penduduk; (3) meskipun lebih banyak sawahnya yang ditanami tebu, namun produksi berasnya lebih besar dari produksi beras di daerah bukan-gula.

Kuantifikasi angka-angka ini membantu menunjukkan hubungan yang sangat erat antara padi, tebu, dan kepadatan penduduk, meskipun tidak secara jelas menunjukkan sebab mengapa ketiga hal (tebu, padi, dan terutama populasi penduduk) itu tumbuh dan subur secara bersama-sama. Hubungan ini dijelaskan oleh prosentase daerah-daerah gula yang ditunjukkan secara lebih persis dengan pengisolasian kawedanaan-gula di dalam kabupaten-gula dalam tabel berikut:

Tabel A. 2. Hubungan antara Produksi Padi, Luas Sawah, Luas Sawah yang Dipanen, Hasil Padi per Hektar, dan Penduduk di Daerah Gula di Jawa pada tahun 1920.

Perimbangan: Prosentasi

Dari Produksi Padi / dari Luas Sawah

Dari Produksi Padi / dari Penduduk

Dari Luas Sawah yang Dipanen (termasuk panen dua kali)

Rata-Rata Hasil Sawah Panenan Padi per Hektar

Ke-37 Kabupaten-Gula Utama.

Ke-98 Kawedanaan-Gula Utama.

Ke-19 Kawedanaan-Gula yang Terkemuka.

Seluruh Jawa (dasar)

107

109

113

100

98

100

98

100

98

94

85

100

110

115

128

100

Sumber 1 & 2, Geertz (1963): Dikuantifikasi dari data di dalam: Landbouwatlas van Java en Madoera, Mededeelingen van het Centraal Kantoor voor de Statistiek, No. 33, Weltervreden: 1926, bagian II. Untuk Mataram, yang pada tahun 1920 agak berbeda pengorganisasinya, dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa (Bantul, Sleman, dan Kalasan dihitung sebagai kawedanaan, dan seluruh Mataran sebagai kabupaten.

Statistik lain yang telah disederhanakan oleh Geertz menggambarkan garis-garis besar pola perkembangan dualitas yang lebih mirip dengan pola “segregatif” di Malaya dari pada simbiotis di Jawa. Dari data statistik yang diperolehnya, Geertz mengklasifikasi data tersebut atau membuat kategorisasi berdasarkan tiga ciri khas dari pengembangan “Indonesia Luar” atau luar Jawa, yang dapat dipergunakan untuk menetapkan pola.[4] Dalam hal ini, Geertz melakukan penentuan ciri-ciri umum (klasifikasi), bukan verifikasi.

Ketiga ciri yang diidentifikasi oleh Geertz berdasarkan angka-angka tersebut, masing-masing sangat berlainan dengan pola Jawa: Pertama, pengembangan itu secara geografis hanya terbatas di tempat-tempat tertentu, lebih-lebih pada pengembangan sektor-padat modal. Kedua, fokus pengembangan tidak lagi ditunjukkan pada rempah-rempah, manisan, dan bahan-bahan perangsang, melainkan pada produksi bahan mentah. Ketiga, petani memainkan peran yang relatif lebih besar dalam ekonomi ekspor dari seluruh ekspor. Sebab dari seluruh ekspor luar Jawa, pemilik tanah kecil memiliki andil kira-kira 35% dari produksi pertanian, dibandingkan dengan kira-kira 15 % untuk petani Jawa. Penjelasan mengenai data statistik ini dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel A. 3. Nilai Kesembilan Ekspor yang Terkemuka antara Jawa dan Luar Jawa (1870-1930).

Indeks

Presentasi Ekspor Hindia Belanda

Jawa

Luar Jawa

Jawa

Luar Jawa

1870

1900

1930

100

172

555

100

400

3671

87

70

44

13

30

56

Sumber, Geertz (1963): Dikuantifikasi dari J.S. Furnivall (1944), Netherlands India, New York: Macmillan, hal. 337.

Geertz juga menggunakan skala dalam membandingkan angka-angka untuk menjelaskan proses berlangsungnya involusi. Dibandingkan dengan angka-angka pada tahun 1920, maka angka-angka yang berdasarkan pada pendaftaran pemilihan umum tahun 1955 (analisa daerah per daerah dari angka-angka sensus tahun 1961 yang belum di peroleh oleh Geertz) membuktikan bahwa makin banyak tempat di luar Jawa yang kondisi demografisnya—dan tentunya juga kondisi sosialnya—makin sama dengan kondisi yang berlaku di tempat-tempat yang paling pandat populasi penduduknya. Hal ini dijelaskan oleh Geertz dalam grafik perbandingan berikut:

Grafik A. 1. Perubahan Kepadatan Penduduk dan Penghasilan Bahan Makanan


Sumber, Geertz (1963): Dikuantifikasi dari I. Reksohadiprojo & S. Hadispoetro (1960) “Perubahan Kepadatan Penduduk dan Penghasilan Bahan Makanan (Padi) di Jawa dan Madura”, Agricultura, I.

Skala dalam grafik yang digunakan oleh Geertz (1963) di atas, menunjukkan bahwa rata-rata distribusi dari daerah-daerah itu kurang lebih sama. Akan tetapi, daerah yang dahulu merupakan minoritas, yaitu daerah yang terlampau padat penduduknya, sekarang menjadi lumrah, sedangkan yang dulu lumrah, yaitu daerah yang penduduknya cukup besar, sekarang merupakan minoritas. Meski demikian, Reksohadiprodjo & Hadisapoetro (1960: 3-107), yang menganalisa data itu secara lebih seksama, menunjukkan—dengan sedikit pengecualian[5]—bahwa; (1) daerah yang padat populasi penduduknya tetap ada di dalam golongan kepadatan umum dari tahun 1920 ke 1930; tetapi (2) daerah-daerah dengan kepadatan penduduk yang rendah pada tahun 1920, menunjukkan kecenderungan kepadatan penduduk yang lebih tinggi pada tahun 1930 dan mencolok lagi pada tahun 1955.

B. Penelitian Roy A. Rappaport (1967):

Masalah kuantifikasi dan pengukuran dalam penelitian antropologi ini juga terdapat pada kajian rinci mengenai ekologi suku bangsa Maring Tsembaga yang terdiri dari 200 orang—yang dilakukan pada tiga kelompok lokal oleh Rappaport (1967, 1971), Vayda (1968), dan Clarke (1971). Etnografi ini menyajikan informasi sangat lengkap dalam bentuk kuantifikasi dan pengukuran-pengukuran. Dalam studi yang kaya oleh data angka ini, Rappaport meyakini bahwa daya dukung potensial tanah adalah 2,5 meter persegi tanah yang bisa ditanami untuk setiap orang dari 200 orang tersebut; sementara kepadatan penduduknya tercatat 124 orang. Dari data angka yang dikumpulkan oleh Rappaport, kita dapat melihat bahwa sekitar 1000 hektar dari lereng gunung (pada ketinggian 700 meter) sampai ke punggung gunung (pada ketinggian 2.200 meter/suatu wilayah seluas 3,2 mil persegi yang dapat ditanami dengan baik) digunakan sebagai kebun atau dibiarkan tak digarap.

Selama kajian ekologi di daerah ini dilakukan, Rappaport mengumpulkan data angka dari hasil pengukurannya yang menunjukkan bahwa sekitar 46 hektar lahan sedang ditanami; sekitar 100 hektar (10% dari jumlah keseluruhan lahan) sudah merupakan kebun saat itu, karena setiap kebun digarap selama dua tahun atau lebih. Hortikultura di wilayah ini menyediakan 99% kebutuhan pangan sehari-hari orang Tsembaga. Rappaport juga membuat klasifikasi mengenai pola pemenuhan kebutuhan mereka yang juga makan babi hutan, marsupalia (mirip kanguru), reptil, dan juga tempayak dari hutan sekitarnya. Sebab, untuk mempersiapkan sebuah kebun saja, suatu keluarga dari orang Tsembaga terlebih dahulu harus membersihkan hutan sekunder. Setelah lahan untuk kebun tersedia, kebun tersebut kemudian diberi pagar untuk melindunginya dari gangguan babi liar ataupun babi piaraan.

Menurut hitungan Rappaport, pembersihan hutan membutuhkan lebih dari dua setengah kali investasi energi per hektar dibanding penebangan pohon, sedangkan pembuatan pagar membutuhkan kurang dari separuh investasi energi per hektar pada saat pembersihan yang pertama, yang dilakukan oleh kaum pria. Dalam hal memanen dan mengangkut panenan yang memerlukan banyak tenaga, Rappaport melakukan kuantifikasi dalam menghitung kalori yang dibutuhkan oleh orang-orang tersebut dengan memperkirakan bahwa; (1) sekitar 300.000 kalori per hektar diinvestasikan dalam berkebun; dan (2) sekitar 5.000.000 kalori dari pangan per hektar dipaneni—lebih sedikit dari 16 berbanding 1 sebagai imbalan pada energi yang diinvestasikan.

Rappaport juga memperhitungkan faktor dalam menentukan strategi berkebun, yaitu mengenai banyaknya babi yang harus diberi makan, yang menimbulkan masalah baru. Alasannya sederhana, yaitu bahwa pemeliharaan babi pada masyarakat Tsembaga merupakan suatu daur. Dalam hitungannya, jika suatu keluarga hanya memelihara satu atau dua ekor babi, mereka mengurus satu kebun besar pada ketinggian sedang, yang cukup untuk penyediaan makanan untuk babi dan mereka sendiri. Hitungan selanjutnya adalah bahwa, jika jumlah babi bertambah maka; (1) satu kebun biasanya terutama ditanami ubi manis (menjadi makanan babi dan mereka sendiri), pada ketinggian 1.400 meter atau lebih; (2) kebun kedua pada ketinggian yang lebih rendah ditanami keladi dan ubi.

Rappaport (1971) lebih jauh membuat perbandingan dalam skala pengukuran pada suatu tahun yang lebih khusus dibanding dengan tahun saat ia melakukan penelitihan dimana para penduduk terpencar di antara kebun-kebun, dengan memperkirakan bahwa rasio penghasilan mungkin akan menjadi sekitar 20 berbanding satu. Rasio yang dihitung oleh Rappaport ini menunjukkan hampir dua kali lipat penghasilan energi subsistens yang diinvestasikan oleh masyarakat pemburu dan peramu—sebagai pembuktian mengenai investasi energi yang semakin intensif dimungkinkan oleh kemajuan teknologi yang dicapai manusia.[6] Dari perbandingan dengan Bushman dan Eskimo, orang Tsembaga menghabiskan banyak energi dalam memelihara babi, sedangkan orang Bushman atau Eskimo menghabiskan energi mereka untuk berburu binatang sebagai sumber protein. Lagi pula, sejumlah besar ubi yang memiliki zat-zat tepung yang dimakan oleh orang Tsembaga memberi kalori yang tinggi, tetapi mengandung gizi (nutrisi) yang rendah.

C. Penelitian James J. Fox (1977):

Masih berhubungan dengan metode di atas, contoh penggunaan data angka yang digunakan sebagai perbandingan dapat juga dilihat dalam penelitian James J. Fox (1977) yang mendeskripsikan “Panen Lontar” (Harvest of the Palm) dengan tujuan untuk memperlihatkan perbedaan-perbedaan budaya di antara penduduk Pulau Rote dan Sawu. Dalam perbandingannya, Fox meyakini bahwa walaupun penduduk di kedua pulau yang berdampingan ini memiliki cara pemanfaatan lontar yang mirip, namun mereka memiliki tradisi budaya yang berbeda. Oleh sebab itu, dengan memusatkan perhatian pada sejarah masing-masing, perbedaan-perbedaan budaya itu dapat dilihat dalam penelitian ini.

Fox menghitung faktor-faktor yang berlainan—seperti manusia, kerbau, babi, kambing, dan domba—dengan harapan dapat memperlihatkan korelasi dengan tanah atau lahan yang merupakan dasar penunjang kehidupan mereka. Dalam analisis ini ternyata kerbau menunjukkan hubungan dengan tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan gabungan populasi kambing dan domba. Populasi manusia menunjukkan korelasi yang lebih rendah dari pada kambing dan domba, sedangkan babi memperlihatkan hubungan yang paling rendah. Koefisiensi dari korelasi-korelasi tersebut dapat dilihat dalam tabel dan gambar sebagai berikut:

Tabel C. 1. Korelasi Populasi yang dibuat oleh Fox (1977)

Kerbau 0.85

Kambing dan domba 0.73

Manusia 0.71

Kambing 0.66

Domba 0.63

Babi 0.62

Dari tabel angka di atas, kita dapat melihat berbagai bentuk peternakan yang terdapat di Rote, Ndao, dan Sawu mungkin dihubungkan satu sama lain oleh Fox sebagai strategi ekonomi yang dapat dibandingkan dengan secara logis. Dengan mengambil rasio semua populasi hewan dalam tiap daerah dan membaginya dengan jumlah rasio kerbau, babi, kambing, dan domba, maka dapat diperkirakan rasio tiap populasi hewan dari jumlah seluruh ternak di daerah itu. Jadi, hubungan sangat berarti (signifikansi) yang timbul adalah antara babi dan manusia.

Grafik C. 1. Garis regresi babi pada populasi manusia untuk berbagai daerah di Rote dan Pulau Ndao dan Sawu dengan luas faktor tanah yang dihilangkan.[7]


Ndao

Ringgau/Oepao

Loleh ● Baa Dengka/

Bilba Lelain

Korbaffo

Termanu Denale

Keka Talae Delha

Diu

Landu/Lenenuk/Bokai

2.500


2.000

1.500

1000

500


00 0.800 1.600 2.400 3.200 4.000

Babi

Grafik C. 2. Penyajian barisentris yang memperlihatkan persimpangan setiap daerah.[8]

Kambing & Domba


● Landu

Diu

● Bilba ● Keka ● Dengka/ Lelain

● Ndao

● Termanu ● Thie ● Enale

●●Talae ● Sawu

● Ringga/ Lelanuk/Bakai

Oepao


Kerbau Babi

Dengan memperhatikan hasil-hasil dari analisis sebelumnya dan menyatukan ke dalam kerangka umum yang dibahas oleh Fox, maka dapat diperoleh suatu rekapitulasi yang pendek dari grafik-grafik di atas. Angka-angka kepadatan penduduk untuk kepulauan di Nusa Tenggara Timur telah mengungkapkan perbedaan yang berarti (signifikan) antara Pulau-Pulau Sawu Rote dan Pulau-Pulau Raijua dan Ndao yang berdekatan, dengan dua Pulau yang lebih besar di sebelah timur dan barat, yaitu Timor dan Sumba. Perbedaan itu tampaknya sebagian terletak pada perekonomian di pulau-pulau tersebut. Hasil rekapitulasi tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel C. 2. Populasi Manusia dan Ternak di Pulau-Pulau Rote, Ndao, dan Sawu

Daerah atau

Pulau

Luas Tanah

(km persegi)

Populasi Manusia

Populasi Kerbau

Populasi Babi

Populasi Kambing

Populasi Domba

Gabungan Populasi Kambing- Domba

Landu

Ringgou/Oepao

Bilba

Diu

Korbaffo

Lelenuk/Bokai

Termanu

Baa

Talae

Keka

Loleh

Dengkal/Lelain

Thie

Oenale

Delha

Ndao

Sawu

169

57

59

61

60

52

177

48

33

42

77

178

93

64

44

9

747

1,481

3,171

2,942

1,356

2,466

598

4,586

2,663

974

1,148

3,928

7,390

7,911

2,394

1,333

1,686

27,311

229

283

363

205

430

94

857

667

115

83

175

625

484

85

41

11

3,880

122

64

64

64

246

46

125

246

71

46

102

1,135

676

284

341

123

4,010

502

256

221

152

391

63

341

503

153

171

231

1,775

574

87

85

151

1,180

917

43

822

739

772

98

435

688

105

281

170

1,937

1,342

594

625

190

4,595

1,419

299

1,043

891

1,163

161

776

1,191

258

452

401

3,712

1,916

681

710

341

5,775

Fox sendiri mengakui bahwa angka-angka penduduk Pulau Rote pada abad kesembilan belas dan dua puluh adalah sangat membingungkan (Fox, 1996: 199); yaitu adanya sejumlah besar data yang tidak sama dan memerlukan analisa yang sangat teliti dan hati-hati. Angka-angka itu mulai dari tahun 1824, berturut-turut pada waktu-waktu tertentu sampai tahun 1971. Angka-angka tersebut dikumpulkan pada waktu-waktu yang berlainan untuk tujuan yang berlainan, oleh para petugas komisi, para penyebar agama, inspektur pendidikan, controleurs, dan baru-baru ini untuk pemerintah Indonesia oleh guru-guru dan para kepala desa. Salah satu sensus terbesar adalah sensus yang diadakan di seluruh pulau, meliputi jumlah penduduk dari kedelapan belas kerajaan di Pulau Rote. Perincian angka-angka selanjutnya yang dikerjakan oleh Fox diadakan berdasarkan ratusan marga di pulau itu; suatu hal yang tidak pernah diulang dalam sensus-sensus berikutnya. Dari dua belas sensus yang diadakan berturut-turut itu, tujuh di antaranya mencaat jumlah penduduk dari setiap kerajaan. Namun yang paling akhir, yaitu tahun 1971, jumlah penduduk tidak lagi dicatat menurut kerajaan; pencacahan dilakukan berdasarkan kecamatan, yang merupakan penggolongan baru dari kerajaan-kerajaan tersebut.

Fox mengakui juga bahwa ia mengalami kesulitan dalam menggunakan angka-angka itu secara teliti. Pertama, adanya kenyataan bahwa Belanda tidak berhasil menetapkan batas antara kerajaan-kerajaan itu sampai tahun 1887. Hingga saat ini, masih terdapat ketidaktetapan jumlah penduduk di antara batas-batas kerajaan—di beberapa tempat, ketidaktetapan ini lebih besar. Kemudian, terjadi sedikit perubahan di daerah-daerah perbatasan. Di samping perpindahan besar ke luar pulau selama dua abad, terjadi juga perpindahan antar daerah. Oleh karena itu, hasil kuantifikasi Fox menunjukkan bahwa “penurunan jumlah penduduk suatu daerah, tidak dapat dianggap sebagai akibat dari perpindahan penduduk daerah tersebut ke Timor”. Lagi pula, selama setengah abad terakhir dari abad kesembilan belas, Pulau Rote diserang oleh wabah cacar yang hebat, dan akibatnya di beberapa daerah hanya dapat diperkirakan saja (Fox, 1996: 200). Kedua, kecuali sensus terakhir, tidak ada di antara keterangan-keterangan itu memberikan perkiraan usia yang dapat digunakan untuk membentuk suatu piramide demografi sederhana, sehingga dapat diadakan perkiraan (penghitungan) selanjutnya. Karena faktor perpindahan dan epidemi tidak dapat ditentukan, maka tidak dapat dengan gegabah memperhitungkan kira-kira pertumbuhan penduduk di pulau itu. Akhirnya, di antara sekian banyak catatan, baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan, yang memberikan angka-angka penduduk, tidak satu pun di antaranya memberi petunjuk mengenai cara pengumpulan data tersebut.

Gabungan dari kedua kesulitan di atas yang dihadapi oleh Fox itu membentuk suatu rintangan yang besar bagi analisis; namun pada umumnya keterangan Fox mengandung ketelitian dalam penghitungan, dan dengan syarat-syarat tertentu keterangan ini mengungkapkan keadaan. Untuk menghadapi kesiulitan-kesulitan ini, dalam studinya, Fox memulai analisis itu dengan meneliti garis besar dari kenaikan dan penurunan jumlah penduduk. Keduabelas angka jumlah penduduk Rote selama abad kesembilan belas dan dua puluh adalah sebagai berikut:[9]

Tabel C. 3. Angka Jumlah Penduduk Rote Selama Abad Ke-19.

Tahun Penduduk

1824 36,000

1831 40,771

1863 64,132

1879 52,090

1885 52,819

1890 56,600

1921 44,341

1930 58,515

1954 67,186

1957 71,591

1961 70,568

1971 74,133

Dari daftar di atas, segera terlihat bahwa jumlah penduduk Rote mencapai puncaknya pada tahun 1860-an, menurun pada tahun 1870-an, dan baru pada tahun 1921 berangsur-angsur naik. Fox menjelaskan bahwa di antara tahun 1890 dan 1930, kenaikan ini, secara mutlak, kira-kira 2,000 orang, kurang dari 5% selama 40 tahun. Jelas bahwa baru menjelang akhir tahun 1940-an, jumlah penduduk Rote mulai melampaui jumlah apa abad sebelumnya. Walaupun terdapat keanikan dan penurunan, namun sejak kemerdekaan, jumlah penduduk Rote makin bertambah. Kenaikan itu pun tidak besar—hanya 7,000 orang antara tahun 1954 dan 1971. dalam keseluruhan, jumlah penduduk Rote menjadi dua kali lipat dalam masa kira-kira 150 tahun (Fox, 1996: 201).

Kenyataan di atas turut menggambarkan kondisi perekonomian di Sumba Timur dan sebagian besar Timor Barat sangat tergantung pada perladangan yang ciri-cirinya antara lain: (1) masa pembakaran tanah yang panjang; (2) pembukaan tanah dengan cara pembakaran; (3) dan pembuatan pagar yang panjang untuk melindungi ladang dari hewan yang berkeliaran. Pada mulanya, baik Sumba maupun Timor memiliki memiliki hewan yang kira-kira sama. Tetapi kemudian, untuk mendorong perekonomian yang asli, kedua pulau itu mulai memelihara hewan untuk ekspor, yaitu kuda pada pada awal abad kesembilan belas di Pulau Sumba. Cara ternak itu diperkenalkan, cara perdagangan ekspor, dan susunan masyarakat di pulau-pulau itu, semuanya membantu perkembangan daerah-daerah yang dikuasai oleh golongan atas yang kaya dan sangat berkuasa tanpa mengubah dasar mata pencaharian penduduk. Hewan-hewan yang dipelihara untuk ekspor itu sesungguhnya lebih membebani dan mendesak sektor pertanian yang merupakan mata pencaharian pokok.[10]

D. Penelitian Robert McNetting (1981):

Contoh lain dari penggunaan kuantifikasi dan pengukuran dalam penelitian antropologi ini, dapat kita lihat dalam penelitian Netting (1981) mengenai keseimbangan di daerah Alpen, Switzerland. Secara khusus, Netting meneliti perubahan dan kelangsungan ekologi di komunitas pegunungan Swiss, dengan menguraikan Tรถrbel lebih dari satu periode waktu, secara dinamik. Hal ini memungkinkannya untuk mengerjakan catatan demografik secara detil, dengan menggunakan teknik yang baru-baru, pada saat itu statistik, dikembangkan untuk tujuan penelitian; yaitu beberapa catatan yang esensial untuk memahami keseimbangan antara populasi penduduk dan lingkungan.

Bagaimanapun juga, populasi atau jumlah penduduk yang dikaji oleh Netting, mengingatkan kita pada posisi yang luar biasa dari pekerjaan secara individu. Dari sini, masalah yang muncul kemudian adalah beberapa pertanyaan mengenai; Pertama, (1) apakah populasi menghilangkan keseimbangan dengan sumberdayanya dalam suatu kasus?; (2) Jika iya, lantas seberapa besar?; Dan (3) jika tidak, bagaimana hal itu dapat terpelihara kelangsungannya? Kedua, jika populasi menekankan pentingnya variabel sebab akibat, pertanyaan selanjutnya adalah (1) apa yang menentukan pertumbuhan populasi?; dan (2) mengapa beberapa kelompok pemburu dan peramu menghindari menipisnya persediaan makanan dari lingkungan mereka dengan adanya pengaturan populasi?

Netting (1981: x-xi) meyakinkan beberapa rekan yang meragukannya, bahwa dari sejumlah masalah yang muncul dari penelitian sebelumnya hanya dapat dilakukan dengan pendekatan melalui kajian dari komunitas kecil yang ada, yaitu data statistik yang berupa laporan dokumen di masa lalu. Adanya model-model ekologi, sketsa-sketsa eksplanatoris, dan juga angka-angka statis, setidaknya dapat membantu memperjelas, meskipun belum sampai pada suatu hipotesis, sampai variabel populasi ini dapat dipegang dalam kerangka kuantitatif (quantitative framework: quantification & measurement). Netting juga mengakui bahwa ia membutuhkan lebih dari sekedar potret ukuran (size) dari sebuah kelompok lokal pada beberapa batasan waktu, dan pengukuran-pengukuran (measures) dari kepadatan seperti rasio orang atau lahan. Selain itu, penggunaan data populasi yang dilengkapi dengan bukti-bukti dokumen, seperti masa berlaku tanah, keputusan secara politik di pedesaan, naik-turunnya iklim, serta kondisi ekonomi di masa lalu telah membuka jalan bagi apa yang disebut oleh Le Roy Ladurie (1977) sebagai “an antropology of history”.[11]

Karena itu, Netting hanya menitikberatkan bahwa bagi seorang antropolog budaya yang tertarik pada sejarah dari berbagai kegiatan tertentu, studi kuantitatif dalam skala kecil dari prilaku yang didokumentasikan secara ideal seharusnya diinterpretasikan dan dilampirkan dengan pengalaman yang tidak dikemukakan dalam kehidupan sosial. Berhubungan dengan tema di atas, penelitian Netting (1981) ini menggunakan kuantifikasi dalam mengolah data famili dalam bentuk yang digunakan oleh “Cambridge Computer Program”. Hal ini memperkenankan tabulasi-tabulasi disajikan dengan metode yang canggih untuk menangani materi-materi sejarah tersebut. Kebanyakan demografi yang dimuat oleh Netting disajikan dalam interpretasi secara detil dan dicetak di Cambridge. Meski Netting (1981: xx) dituduh oleh sebagian antropolog sebagai “aping the hard sciences in an orgy of quantification”, namun Netting tetap berargumentasi pada perubahan metode untuk mengetahui perubahan ekologi, berdasarkan metode yang ia gunakan.

Kuantifikasi yang dilakukan oleh Netting (1981) dalam penelitian yang menggunakan sekala yang lebih kecil ini, dapat dilihat dalam tabulasi berikut ini:

E. National Geographic (2002):

Contoh yang menarik mengenai masalah kuantifikasi dan pengukuran ini dapat dilihat dalam sebuah etnografi yang ditulis dan dipublikasikan dalam bentuk visual anthropology untuk The National Geographic Television mengenai “kulit” (Skin We’re In) di Afrika oleh Ron Bowman, Lisa Fredrickson dan Michael Rosenfeld (2002).[12] Mereka berpendapat bahwa kulit merupakan sesuatu yang terhubung dengan masalah identitas, yang darinya muncul beragam masalah mulai dari kecantikan, penuaan, moralitas, ras dan jenis kelamin. Mereka juga meyakini bahwa di jaman migrasi global, menyangkut ikatan keluarga yang memperbesar benua, kulit tak selalu seperti seharusnya. Terkadang masalah dengan kulit terlalu dalam untuk diperbaiki oleh sinar laser bagi orang yang hendak menghilangkan tatto di kalangan geng urban di Amerika, atau perubahan hati bagi orang yang merasa terdiskriminasi di Afrika. Begitu banyak kebingungan, begitu banyak generasi berselisih, hanya karena warna kulit. Bowman mempersoalkan; ada apa dengan kulit? Apa yang manusia ketahui tentang organ terbesar tubuhnya sendiri?

Dalam etnografi visual ini, Bowman menceritakan banyak hal mengenai kulit dari segi biologi sampai budaya yang ditimbulkannya, dengan mencantumkan metode pengukuran yang dilakukan ahli antropologi Nina Jablonski dalam memperkuat hipotesisnya. Bowman juga mengisahkan bagaimana masalah sosial terjadi mulai dari pertunjukan “Barenaked” oleh Spencer Tunnick yang mengundang kontroversi di Santa Fe, New Meksiko,[13] sampai pada perjalanan Chris Rainer selama lima tahun untuk memotret budaya orang-orang yang memuja kulit di lembah Omo, Ethiopia Selatan.[14] Bowman menegaskan bahwa dalam banyak hal, kulit manusia sangat bisa dimanipulasi. Seorang musisi jazz dunia berkebangsaan Amerika yang sempat diwawancarai, Anthony Brown misalnya, karena wajahnya yang lebih mirip orang-orang di Kepulauan Pasifik, maka ketika ia berjumpa dengan warga negara Amerika lain yang berasal dari Kepulauan Pasifik, mengajaknya berbicara dengan bahasa asli mereka, baik Tonga atau Samoa. Tetapi lain lagi kisahnya ketika Brown berada di Eropa, orang-orang di sana tak ada yang mengiranya sebagai orang Eropa, kecuali orang-orang di Jerman. Warna kulit Brown adalah hasil campuran genetika orang Afrika dan Choctaw dari ayahnya, dan Jepang dari ibunya. Menurut saya, jika kulit manuisa bercerita tentang perjalanan kuno, dimana batas-batas ras mulai kabur, pertanyaan antropologis selanjutnya adalah; akankah manusia dapat melacak jejaknya hingga ke awal, tanpa sebuah metodologi?

Secara metodologis, etnografi visual ini mencatat kuantifikasi dan pengukuran dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim antropologi biologi dan antropologi sosial-budaya. Tim yang dipimpin oleh Jablonski ini berpendapat bahwa secara anatomis, manusia modern terus bergerak ke berbagai tempat selama 120.000 tahun lamanya, melalui banyak adaptasi biologis dan budaya, dan yang paling menarik adalah persoalan kulit manusia. Tim ini ingin menjawab pertanyaan mendasar tentang kulit manusia, yaitu kapan dan bagaimana awal mulanya? Mereka meyakini bahwa manusia memiliki sejarah kuno dan sifat-sifat manusia yang lama. Jadi, etnografi ini merupakan kisah detektif dengan penghitungan-penghitungan yang mendekati akurasi. Hal ini merupakan bagian terpenting dari evolusi manusia yang ingin dipahami dalam ilmu antropologi, tetapi mereka tidak memiliki bukti fosil langsungnya. Untuk itu, seperti semua detektif, tim Nina Jablonski membutuhkan petunjuk, teknik dan metode.

Asumsi dasar penelitian ini adalah berangkat dari begitu banyak kebingungan atas banyaknya generasi yang berselisih hanya karena permasalahan evolusi biologi warna kulit dari adaptasi lingkungan. Berdasarkan penjelasan mengenai teori evolusionistik, Bowman et. al (2002) menegaskan bahwa pertanyaan penelitian tim Jablonski ini, secara spesifik, adalah mengenai pertanyaan yang paling sering ditanya oleh para ahli geografi, biologi manusia, dan antropologi yang sudah lama mengamati kehidupan manusia, terutama saat melihat kulit manusia, yaitu: kenapa manusia secara umum beragam warnanya? Ahli antropologi Nina Jablonski (2002 dalam Bowman, 2002) menduga jawabannya bahwa hal itu mungkin bukan pada perbedaan manusia berdasarkan kategorisasi-kategorisasi yang dibuat oleh manusia, tetapi justru pada apa yang dimiliki oleh semua mahluk hidup. Menurutnya, satu hal yang dimiliki oleh semua mahluk hidup itu adalah bola api di ruang angkasa.

“Menurutku dalam kilau hangat matahari terdapat irisan tipis radiasi ultra-violet (UV) yang sangat berpengaruh pada kulit. Ia meyakini bahwa berjuta tahun lalu saat manusia awal kehilangan bulu, manusia menjadi lebih rentan terhadap sinar UV: “Jika kulit tak berambut, sering berkeringat, dan berpigmen sedikit, di bawah matahari katulistiwa, itu bukan ide bagus”. Kulit manusia purba harus mengalami perubahan yang melindunginya dari sinar UV tersebut. Jadi, yang tetap ada selama evolusi adalah melanin.[15]

Dari penghitungan melanin tersebut, dalam hipotesisnya, Jablonski berasumsi bahwa; “semakin banyak melanin dalam sel kulit manusia, maka semakin banyak perlindungan terhadap kulit yang dibuat olehnya. Dan oleh karena itu, kulit seseorang akan semakin gelap warna kulitnya.” Akan tetapi, masalah lain timbul dari persoalan warna kulit ini, yaitu adanya pertanyaan bahwa; jika melanin dianggap baik untuk manusia, lantas kenapa di antara manusia ada yang berkulit cerah? Pertanyaan ini mendorong Nina Jablonski[16] untuk memakai alat pengukuran yang tidak biasa bagi seorang ahli antropologi. Ia pergi ke NASA dan meminjam satelit. Hasilnya, menurut Jablonski;

“Jika kita melihat tingkat UV di permukaan bumi: Pertama, kita menyadari beberapa hal yang luar biasa dari angka-angka yang ditunjukkannya. Kedua, dari angka-angka tersebut, kita menyadari bahwa di belahan utara bumi ada area-area luas, yaitu area yang menerima sedikit sekali sinar UV selama setahun dari pada area di dekat kutub.”

Dengan demikian, tim Jablonski—yang terdiri Rox Anderson, Tiffany Field, Gylnis Scott, Sujata Jolly, John H. Langdon, Peter Wheeler, Michael Holick, Melanie Miyanjie, Steven Porges, Norbert Herschkowitz, dan Nicole Poissonier—menciptakan peta baru dunia, dengan menggabungkan hasil penelitian yang menggunakan satelit sebagai alat ukur dan pengamatan terhadap manusia di bumi. Hasil penelitian yang melihat kehidupan sosial manusia berdasarkan biologi dan budaya ini adalah bahwa pada dasarnya bumi terpetakan dari kulit manusia. Penelitian ini juga menunjukkan kenyataan bahwa wajah-wajah di Nairobi, Kenya, dalam studi antropologi biologi mencerminkan warna kulit yang selaras dengan lingkungan tropis. Akan tetapi, gambaran dalam studi antropologi budaya tak sesederhana itu, contohnya meski dianggap berbahaya bagi kalangan orang kulit hitam di Afrika, pemutih kulit merupakan industri bernilai miliaran dollar di sana. Maraknya pemakaian pemutih kulit ini, bukan hanya menjadi mode pada gadis remaja di Nairobi, tetapi mendatangkan masalah perbedaan kulit di belahan dunia lain.

Jika teorinya benar, maka jenis beragam kulit manusia merupakan cerminan bumi. Dari hasil analisa pengukuran satelit ini, Jablonski membantah kategori ras manusia yang dibuat oleh para ahli antropologi sebelumnya. Penyebab warna-warna kulit berdasarkan pengukuran kadar melanin pada manusia menegaskan bahwa kulit—dalam bentuk biologis dan beragam warnanya—merupakan benda yang menjaga bagian dalam manusia tetap di dalam, yang menjadi baju pertahanan diri yang aneh dan membuat manusia merasa sebagai manusia, sekaligus menjadi batas budaya antara konsep “aku”, “kau”, “kita”, dan “mereka”. Melanin dalam jumlah besar dalam tubuh manusia (menurut hitungan Jablonski), di satu sisi, terkadang membuat manusia merasa sakit, atau sedih. Tetapi, di sisi lain, terkadang juga membuat manusia merasa nyaman, bangga, dan bahagia. Untuk itu, Jablonski berargumentasi bahwa:

“Tak ada ras. Tak ada kulit hitam atau Kaukasia. Tetapi hanya ada orang-orang di tempat berbeda di dunia dengan sifat berbeda. Sebagian dari mereka memiliki adaptasi biologis sangat baik dengan lingkungannya. Saya rasa dengan begini, hal-hal ilmiah sebenarnya bisa membebaskan kita.”

III

Kesimpulan

Sebenarnya, kuantifikasi dalam penelitian antropologi (kajian-kajian etnografi yang bersifat kualitatif), pada umumya tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis yang dikembangkan dalam masalah penelitian. Meskipun, jenis kuantifikasi yang lazim digunakan dalam proses ini adalah metode statistik, akan tetapi mungkin dalam hal ini hanya data angka-angka yang dihasilkan oleh statistik itulah yang dipergunakan untuk menjelaskan masalah penelitian. Dalam permulaan sebuah penelitian, mungkin saja data yang ditemukan di lapangan yang berupa data statistik itu sebelumnya dimaksudkan untuk menguji hipotesis, atau mencari hubungan-hubungan, atau perbedaan dan persamaan. Meski demikian, hipotesis itu sendiri dapat diartikan sebagai sebuah pernyataan yang kebenarannya masih harus dibuktikan melalui bukti-bukti empiris dari kerja penelitian lapangan. Karena, hipotesis tidak dapat muncul begitu saja, melainkan harus dibangun berdasarkan teori yang dikembangkan.

Dari beberapa contoh di atas, kita dapat melihat bagaimana kuantifikasi dan pengukuran itu digunakan dalam penelitian-penelitian antropologi, dimana kuantifikasi dan pengukuran ini dapat berupa penguatan hipotesis yang menganalisa signifikansi dan koefisiensi suatu kehidupan sosial. Hal ini dapat dilihat dalam penelitian James J. Fox (1977) tentang perubahan ekologi dalam kehidupan masyarakat Pulau Rote dan sawu. Penelitian Fox yang sangat intensif, dengan metode-metode kualitatif yang kaya dengan data angka, dan dengan proposisi serta hipotesis-hipotesis yang dikembangkan di lapangan (grounded research) ini memang mutlak perlu untuk memperdalam pengertian kita mengenai informasi, generalisasi, dan kaidah-kaidah kehidupan sosial, ekonomi dan ekologi dari penduduk di bagian timur Indonesia.

Kuantifikasi data dan skala pengukuran yang dibuat oleh Fox, dari tabel dan gambar-gambar di atas, dapat dilihat di sini bahwa suatu hal yang tampaknya hanya suatu perubahan kecil, sebenarnya memiliki arti yang sangat penting (signifikan). Hal ini, khususnya dalam kajian Fox, menggambarkan keteraturan dan ketertiban yang lebih mengikat orang kepada lingkungan yang berupa tanaman atau ternak dari pada ladangnya itu sendiri. Kuantifikasi data dan skala pengukuran yang dibuat oleh Fox, dari tabel dan gambar-gambar sebelumnya, dapat dilihat di sini bahwa suatu hal yang tampaknya hanya suatu perubahan kecil, sebenarnya memiliki arti yang sangat penting (signifikan). Hal ini, khususnya dalam kajian Fox, menggambarkan keteraturan dan ketertiban yang lebih mengikat orang kepada lingkungan yang berupa tanaman atau ternak dari pada ladangnya itu sendiri. Walaupun diagram yang dibuat oleh Fox bukan merupakan suatu diagram yang sempurna, namun dimensi pemeliharaan babi dalam gambar 1 memberikan perkiraan letak-letak geografi dari daerah-daerah di Rote serta Pulau-Pulau Sawu dan Ndao dari barat sampai ke timur.

Jika kita melihat gambaran dari situasi umum dalam periode ketika Clifford Geertz (1963) melakukan penelitian di atas, yaitu ketika statistik mengenai pertanian rakyat mulai berkembang, maka dari hasil kuantifikasi yang digunakan oleh Geertz, kita dapat menganalisa beberapa hal: Pertama, membayangkan bagaimana situasi yang khas dari periode tersebut dapat terwujud. Kedua, kita dapat melihat apakah bukti-bukti historis yang berserakan di berbagai tempat itu memperkuat bayangan bahwa situasi itu memang terwujud secara demikian. Geertz (1963) sendiri mengakui bahwa prosedur serupa itu (penggunaan statistik dalam pertanian rakyat) memang berarti memutar kembali roda sejarah. Sebab, bagaimanapun juga kita masih berurusan dengan sejarah penelitian terutama dalam hal metodologi, yaitu penggunaan kuantifikasi dan pengukuran dalam penelitian antropologi.

Di sisi lain, dengan menggunakan analogi keadaan lingkungan untuk menjelaskan perubahan sejarah yang pelik dalam sebuah penelitian, pengukuran dapat mengaburkan atau menjelaskan apa yang telah terjadi di lapangan. Tanpa diragukan lagi, beberapa proses pergantian ekologi dalam penelitian Roy A. Rappaport (1967) misalnya, hal itu dapat dicatat sebagai peristiwa dalam sejarah. Populasi penduduk yang diteliti memiliki keuntungan dan kemampuan di dalam lingkungan yang sama, oleh karena itu tampaknya mereka, menurut Rappaport, berusaha menghindari persaingan dengan mengarahkan perpindahannya ke tempat-tempat lain.

Statistik dalam angka-angka kematian yang digunakan oleh Robert McNetting (1981) misalnya, bagaimanapun hal itu disederhanakan, masih saja dianggap terlalu sulit bagi seorang antropolog untuk mempertimbangkannya terlepas dari hal itu memang sudah lama ditinggalkan oleh kebanyakan antropolog. Bagaimanapun juga, penghitungan-penghitungan (computations) dari frekuensi-frekuensi pada jenis-jenis perkawinan tertentu misalnya, membantu memberikan arti dari sekedar anekdot masa pacaran sebenarnya sekaligus kekecewaan secara individual. Kesemuanya itu mungkin saja dapat merubah proporsi pilihan dari berbagai alternatif pendekatan perilaku yang sudah ada. Peneliti juga dapat melakukan sesuatu yang berbeda dalam sebuah cara yang dapat diamati secara statistik tanpa variasi yang intrinsik dalam kategori mental tradisional mereka, baik berupa nilai-nilai, simbol-simbol yang dominan, tanpa pengaruh dari pengalaman sebagian besar perubahan budaya.

Angka-angka yang digunakan oleh para antropolog di atas, dalam melakukan kuantifikasi, adalah berbagai macam angka dari sebagian kecil angka yang diatur dalam regularitas sebagaimana mestinya, khususnya variasi-variasi yang diamati sebagian kecil perilaku manusia. Konsekwensi dari perubahan metode yang dilakukan oleh para peneliti antropologi, sebagaimana contoh-contoh di atas, seharusnya menjadikan para antropolog sekarang ini berpikir kembali atas asumsi-asumsi, batas-batas yang dibuat, serta teknik-teknik yang didapat dari disiplin mereka. Penggunaan grafik-grafik dan tabel-tabel oleh beberapa antropolog dalam etnografinya di atas, pada dasarnya dimaksudkan untuk menggambarkan secara inheren sebuah penelitian yang dapat dikatakan sebagai “thick description” untuk menjelaskan hal-hal yang besar dalam sekala yang lebih kecil.

Untuk itu, beberapa kutipan kalimat yang saya cantumkan ini setidaknya dapat memberi sedikit pemahaman metodologis:

No method of data collection is perfect. Unstructured interviews and questionnaires produce different kinds of data, and it is up to you to decide which methods, or combination of methods, is best. On the other hand, qualitative data can be the powerful asset, too” (Naroll & Cohen,1970). “Although many qualitative researchers in the post-positivist tradition will use statistical measures, methods, and documents as a way of locating groups of subjects within larger populations, they will seldom report their findings in terms of the kinds of complex statistical measures or methods to which quantitative researchers are drawn (i.e., path, regression, or log-linear analyses) (Denzin & Lincoln, 2000: 9-10). Like the statistical reasoning in small-scale medical research relying on the consistency of findings replicated in diffrent clinics, comparative study in the barnyard and in the small market villages and towns is open to heavy criticism from statisticians whose faith rests on large numbers” (Thrupp, 1975: 6). “However, the anthropologists is just as frequently concerned with an entirely different aspect of oral statements—their indirect or oblique representations” (Passin, 1942).

Atas dasar ini, menurut saya, yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa dalam sebuah penelitian, kita bukan hanya dituntut untuk menarik kesimpulan dari suatu gejala mengenai kehidupan sosial di masa lampau pada situasi masa kini, dengan semata-mata berdasarkan logika. Memang, prosedur penggunaan statistik, mulai dari hasil yang telah diketahui sampai pada suatu proses analisa secara faktual, belum sepenuhnya dapat menggambarkan kondisi masyarakat secara lebih mendalam dalam sebuah deskripsi, karena yang ditampilkan di sana adalah sesuatu dari deskripsi umum suatu kehidupan masyarakat yang lebih sering muncul dipermukaannya saja. Namun, sebuah hasil penelitian yang kaya dengan data dan tajam dalam teori justru banyak terdapat dalam karya-karya etnografi yang berpedoman pada “thick description” tersebut. Oleh karena itu, untuk dapat menjelaskan proses tersebut, seorang peneliti antropologi perlu juga memberi isi deskripsi yang lebih kongkrit dalam menjelaskan masalah penelitiannya.

* Draft tulisan ini disusun sebagai Tugas Mata Kuliah-Wajib Seminar Metode Penelitian Antropologi. Program Pascasarjana (S-3) Departemen Antropologi FISIP-UI. Hendra Kurniawan, 30 Mei / 6 Juni 2005.

DAFTAR PUSTAKA

Alden-Smith, E. & Wishnie, M. (2000). Conservation and Subsistence in Small-Scale Societies. Annual Review of Anthropology, Vol. 29: 493-1.

Anderson, M. (1972). Standard Tabulation Procedures for Houses, Households, and Other Groups of Residents, in the Enumeration Books of the Censuses of 1851 to 1891, dalam E.A. Wrigley (ed.). Nineteenth Century Society: Essays in the Use of Quantitative Methods for the Study of Social Data. Cambridge: Cambridge University Press.

Arensberg, C.M. (1963). The Old World Peoples. Anthropological Quarterly, 36: 75-99.

Barth, F. (1959). Segmentary Opposition and the Theory of Games: A Study of Pathan Organization. Journal of the Royal Anthropological Association, 89: 5-21.

Baylish-Smith, T.P. (1977). Human Ecology and Island Populations: The Problems of Change, dalam T.P. Baylish-Smith & R.G. Feachem (eds.) In Subsistence and Survival: Rural Ecology in the Pasific. New York: Academic, hal. 11-20.

Becker, H.S. (1986). Doing Things Together. Evanston: Northwesthern University Press.

______, (1996). The Epistemology of Qualitative Research, dalam R. Jessor, A. Colby, & R.A. Shweder (Eds.), Ethnography and Human Development: Context and Meaning in Social Inquiry, hal. 53-57. Chicago: University of Chicago Press.

Bennet, D. (1961). Three Measurements of Population Pressure Eastern Java, dalam Jurnal Ekonomi dan Keuangan, 14: 97-106, dikutip oleh Geertz, C. (1976) Involusi Pertanian, terjemahan dari judul asli Agriculture Involution (Berkeley: University of California Press, 1963). Jakarta: Bharatara K.A.

Bennet, J.W., & Thaises, G. (1970). Survey Research in Anthropological Field Work, dalam Naroll, R., & Cohen, R. (eds.) Handbook of Method in Cultural Anthropology. New York, London: Columbia University Press, hal. 316, 333.

______, (1979). The Ecological Transition: Cultural Anthropology and Human Adaption. Oxford: Pergamon.

Blayo, Y. (1972). Size and Structure of Households in the Northern French Village between 1836 and 1861, dalam Peter Laslett (ed.) Household and Family in the Past. Cambridge: Cambridge University Press.

Borrofsky, R. (1994). Assessing Cultural Anthropology (Ed.). New York: McGraw-Hill, Inc.

Bernard, H.R. (1994). Research Methods in Anthropology: Qualitative and Quantitative Approaches. London, New Delhi: Sage Publications, hal. 256-309, 403-513.

Brislin, R.W.(1980). Hypothesis Generation and Testing, dalam Irwin Altman, Amos Rappoport & Joachim Wohlwill “Human Behavior and Environtment”. New York, London: Plenium Press.

Bowman, R., Fredrickson, L. & Rosenfeld, M. (2002). Skin We’re in. Visual Anthropology for National Geographic Television & Film. Washington: NGT, Inc.

Brush, S.B. (1975). The Concept of Carrying Capacity for Systems of Shifting Cultivation. American Anthropologist, 77: 799-811.

Burns, R.K., Jr. (1961). The Ecological Basis of French Alpine Peasant Communities in the Dauphine. Anthropological Quarterly, 34: 19-35.

______, (1963). The Circum-Alpine Culture Area: A Preliminary View. Anthropological Quarterly, 36: 130-55.

Carneiro, R.L. (1970). Scale Analysis, Evolutionary Sequences, and Rating of Cultures, dalam Naroll, R., & Cohen, R. Handbook of Method in Cultural Anthropology. New York, London: Columbia University Press, hal. 834-854.

______, (1974). A Reappraisal of the Roles of Technology and Organization in the Origin of Civilization. American Antiquity, 39: 179-86.

Chagnon, N.A. (1975). Genealogy, Solidarity, and Relatedness: Limits to Local Group Size and Patterns of Fissioning in an Expanding Population, dalam Yearbook of Physical Anthropology 1975, Vol. 19. Washington: American Association of Physical Anthropologists, hal. 95-110.

Chambers, D.S. & Wheeler, D.J. (1992). Understanding Statistical Process Control, 2 ed, dalam Britannica, (2003) Encyclopaedia Britannica, Inc.

Chen, L.C., Ahmed, S. & Mosley, W.H. (1974). A Prospective Study of Birth Interval Dynamics in Rural Bangladesh. Population Studies, 28: 277-97.

Coale, A.J. & Demeny, P. (1966). Regional Model Life Tables and Stable Populations. New York: Princeton University Press.

Cohen, M.N. (1977). The Food Crisis in Prehistory: Overpopulation and the Origins of Agriculture. New Haven: Yale University Press.

Cole, J. (1972). Cultural Adaptation in the Eastern Alps. Anthropological Quarterly, 45: 158-76.

Cowgill, G.L. (1975). On Causes and Consequences of Ancient and Modern Population Changes. American Anthropologist, 77: 505-25.

Crane, J.G., Angrosino, M.V. (1974). Field Project in Anthropology: A Student Handbook. New Jersey: General Learning Press.

Devons, E. & Gluckman, M. (1964). Conclusion: Modes and Consequences of Limiting a Field of Study, dalam Max Gluckman (ed.) Closed Systems and Open Minds: The Limits of Naivety in Social Anthropology. Chicago: Aldine, hal. 158-261.

Driver, H.E. (1970). Statistical Studies of Continuous Geographical Distributions, dalam Naroll, R., & Cohen, R. Handbook of Method in Cultural Anthropology. New York, London: Columbia University Press, hal. 635.

Elias, W.S. & Netting, R.M. (1977). Methods in the Analysis of European Population History: The Cases of Torbel, Canton Valais, Switzerland. Paper dalam The Annual Meeting of the American Anthropological Association.

______, Starmer, W.T. (1978). Inbreeding as Measured by Isonymy, Pedigrees, and Population Size in Torbel, Switzerland. American Journal of Human Geneties, 30: 366-376.

Firth, R. (1954). Cencus and Sociology in a Primitive Island Community, dalam Problems and Methods in Demographic Studies of Preliterate Peoples. Proceeding of the World Population Confrence. New York: United Nations, dikutip oleh Denzin N.K. & Lincoln, Y.S. (2000). Handbook of Qualitative Research. Second Edition. California, London, New Delhi: Sage Publications, Inc, hal. 9-10.

Fortes, M. (1978). An Anthropologist’s Apprenticeship, dalam B.J. Siegel (ed.) Annual Review of Anthropology. Palo Alto: Annual Reviews, hal. 1-30.

Foster, G.M. (1965). Peasant Society and the Image of Limited Good. American Anthropologist, 67: 293-315.

Fox, J.J. (1996). Panen Lontar: Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu, terjemahan dari judul asli “Harvest of the Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia (Cambridge, Massachusetts, London: Harvard University Press, 1977). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Frisch, R.E. & Revelle, R. (1970). Height and Weight in Menarche and a Hypothesis of Critical Body Weights and Adolescent Events. Science, 169: 397-9.

Geertz, C. (1963). Agriculture Involution. Berkeley: University of California Press.

Gogolin, L. & Swartz, F. (1992). A Quantitative and Qualitative Inquiry into the Attitudes Toward Science of Non-Science College Students. Journal of Research in Science Teaching, 29 (5): 487-504, dikutip oleh Creswell, J.W. (1994), Research Design. Qualitative & Quantitative Approaches. Sage Publication Inc. (Jakarta: KIK Press), Bab 10.

Hammel, E.A. & Laslett, P. (1972). Comparing Household Structure over Time and between Cultures. Comparative Studies in Society and History, 16: 73-109.

Higham, C.F.W. (1969). Towards an Economic Prehistory of Europe. Current Anthropology, 10: 135-50.

Hockings, P.(1975). Principles of Visual Anthropology (ed.). Chicago, Illinois: Aldine-Mouton Publishers.

Kalbfleisch, J.G. (1985). Probability and Statistical Inference, 2 ed, 2 vol, dalam Britannica, (2003) Encyclopaedia Britannica, Inc.

Kroeber, A.L. (1939b). Tribes Surveyed. University of California Anthropological Records, 1: 435-440.

Lake, D.G., Mathew, B., Miles, & Earle, R.B. (1973). Measuring Human Behaviour: Tools for the Assesment of Social Functioning (Eds.). New York, Teachers College Press.

Langer, W.A. (1972). Checks on Population Growth: 1750-1856. Scientific American, 266: 93-9.

Laslett, P. (1969). Size and Structure of the Household in England over Three Centuries. Population Studies, 23: 199-223.

Lee, R.B. (1969). Kung Bushman: An Input and Output Analysis, dalam David Damas (ed.) Contributions to Anthropology: Ecological Essays. Ottawa: National Museum of Canada (bulletin 230), hal. 73-94.

Levi-Stauss, C. (1953). Social Structure, dalam A.L. Kroeber (ed.) Anthropology Today. Chicago: University of Chicago Press, hal. 524-53.

Levine, R.A. (1970). Research Design in Anthropological Field Work, dalam R. Naroll & R. Cohen (eds.) Handbook of Method in Cultural Anthropology. New York, London: Columbia University Press, hal. 183-185.

Lindzey, G., & Borgatta, E.F. (1959). Sociometric Measurement, dalam Gardner Lindzey (ed.) Handbook of Social Psychology. Vol. 1: 3.

Madrigal, Lorena. (1998). Statistics for Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.

Miller, D.C. (1977). Handbook of Research Design and Social Measurement. New York: David McKay Company.

Minge-Kalman, W. (1977). On the Theory and Measurement of Domestic Labor Intensity. American Ethnologist, 4: 273-84.

Murdock, G.P. (1949). Social Structure. New York: Macmillan, dikutip oleh Pelto, P.J., & Pelto, G.H. (1970), Anthropological Research. The Structure of Inquiry. Cambridge: Cambridge University Press.

Naroll, R. (1970). Data Quality Control in Cross-Cultural Surveys, dalam Naroll, R., & Cohen, R. Handbook of Method in Cultural Anthropology. New York, London: Columbia University Press, hal. 938-944.

Netting, R.M. (1965). A Trial Model of Cultural Ecology. Anthropological Quarterly, 38: 81-96.

______, (1973). Fighting, Forest, and the Fly: Some Demographic Regulators among the Kofyar. Journal of Anthropological Research, 29: 164-79.

______, (1981). Balancing on an Alp: Ecological Change and Continuous in a Swiss Mountain Community. Cambridge: Cambridge University Press.

Nurge, E. (1970). Birth Rate and Work Load. American Anthropologist, 72: 1434-9.

Nurgiyantoro, B., Gunawan, & Marzuki (2002). Statistik Terapan Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Yogyakarta: UGM Press.

Passin, H. (1942). Tarahumara Prevarication: A Problem in Field Method. American Anthropologists, 44: 235-247, dalam Naroll, R., & Cohen, R. Handbook of Method in Cultural Anthropology. New York, London: Columbia University Press, hal. 319.

Polgar, S. (1972). Population History and Population Policies from and Anthropological Perspective. Current Anthropology, 13: 203-11.

Rappaport, R. (1967). Ritual Regulation of Environmental Relations among a New Guinea People. Ethnology, 6: 17-30.

______, (1968). Pigs for the Ancestor: Ritual in the Ecology of a New Guinea People. New Haven: Yale University Press.

Reedy,C.L. (1987). Statistical Analysis in Iconographic Interpretation: The Function of Madras at Tapho, A Tibetan Buddhist Monastry. American Anthropologist, Vol. 89: No. 3, hal. 635-649.

Reksohadiprojo, I. & Hadispoetro, S. (1960). Perubahan Kepadatan Penduduk dan Penghasilan Bahan Makanan (Padi) di Jawa dan Madura. Agricultura, 1: 3-107.

Sahlins, M.D. (1957). Land Use and the Extended Family in Moala, Fiji. American Anthropologist, 59: 449-62.

Singarimbun, M., & Effendi, S. (1995). Prinsip-Prinsip Pengukuran dan Penyusunan Skala, dalam Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES, hal. 95.

Smith, P.E.L. & Young, T.C. (1972). The Evolution of Early Agriculture and Culture in Greater Mesopotamia: A Trial Model, dalam Brian Spooner (ed.) Population Growth: Anthropological Implications. Cambridge, Mass: MIT Press, hal. 1-59.

Splinder, G. & Splinder, L. (1992). Cultural Process and Ethnography: An Anthropological Perspective, dalam M.D. LeCompte, W.L. Millroy, & J. Preissle (Eds.), The Handbook of Qualitative Research in Education. New York: Academic Press, hal. 69.

Stoffle, R.W., & Evans, M.J., & Olmsted, J.E. (1990). Calculating the Cultural Significance of American Indian Plants: Paiute and Shoshone Ethobotany at Yucca Mountain, Nevada. American Anthropologist, Vol. 92: No. 3, hal. 416-431.

Swedlund, A.C. & Armelagos, G.J. (1976). Demographic Anthropology. Dubuque: W.C. Brown.

Tatje, T.A., & Naroll, R. (1970). Two Measures of Societal Complexity: An Empirical Cross-Cultural Comparison, dalam Naroll, R., & Cohen, R. Handbook of Method in Cultural Anthropology. New York, London: Columbia University Press, hal. 766-782.

Thrupp, S.L. (1975). Comparative Study in the Barnyard. Journal of Economic History, 35: 1-7.

Vayda, A. & Rappaport, R. (1968). Ecology, Cultural and Non-Cultural, dalam J.A. Clifton (ed.) Introduction to Cultural Anthropology. Boston: Houghton Mifflin Company.

Wachter, K.W. & Laslett, P. (1978). Measuring Patriline Extinction for Modeling Social Mobility in the Past, dalam K.W. Wacther, E.A. Hammel & P. Lasslett (eds.) Statistical Studies of Historical Social Structure. New York: Academic, hal. 113-35.

Whyte, W.F. & Alberti, G. (1983). On Integration of Research Methods, dalam M. Bulmer & D. Warwick (Eds.), Social Research in Developing Countries. New York: Wiley, hal. 352-374.

Wolff, A. (1925). Essentials of Scientific Method, hal, 10-15.

Wolf, E.R. (1966). Kinship, Friendship, and Patron-Client Relations in Complex Societies, dalam Michael Banton (ed.) The Social Anthropology of Complex Societies. London: Tavistock, hal, 1-22.



[1] Pada pertengahan Abad 20 penelitian-penelitian kualitatif melaporkan penemuan-penemuan pengamatan terlibat dalam kaitannya dengan quasi-statistik. Lihat H.S. Becker, B. Geer, E.C. Hughes, dan A.L. Strauss (1961) Boys in White: Student Culture in Medical School (Chicago: University of Chicago Press).

[2] Penjelasan secara mendalam mengenai kuantifikasi sebagai sebuah metode ini dapat dilihat dalam G. Splinder dan L. Splinder (1992) “Cultural Process and Ethnography: An Anthropological Perspective”, dalam M.D. LeCompte, W.L. Millroy, dan J. Preissle (Eds.) The Handbook of Qualitative Research in Education (New York: Academic Press, hal. 69); dan U. Flick (1998) An Introduction to Qualitative Research: Theory, Method and Applications (London: Sage).

[3] Dalam tanggapannya, positivis berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan adalah pencarian ilmu pengetahuan yang bebas dari subyektifitas dan bias individu. Lihat E.G. Guba (1990) “The Alternative Paradigm Dialog”, dalam E.G. Guba (ed.) The Paradigm Dialog (Newbury Park, CA: Sage, hal. 17-30); dan R. Narol & R. Cohen (1970) Handbook of Method in Cultural Anthropology (New York, London: Columbia University Press).

[4] Jika angka-angka yang menjadi dasar untuk Tabel. 3 itu dapat dipisahkan menurut pembagian “Indonesia Dalam” di Jawa dan “Indonesia Luar” di luar Jawa, dengan demikian pengembangan teh di Jawa Barat dapat dimasukkan ke dalam kategori “Indonesia Luar”, maka gambaran yang kita peroleh akan lebih mencolok lagi.

[5] Beberapa daerah yang memiliki kondisi alam yang jelas tidak menguntungkan—khususnya dari segi irigasi—merupakan pengecualian karena daerah-daerah itu tetap pada tingkat yang rendah.

[6] Masyarakat pemburu dan peramu yang dimaksud adalah Kung Bushman, penghuni hutan di Afrika bagian selatan . Para Bushman bisa bertahan hidup dengan memakan pangan yang berkalori jauh lebih rendah. Yang terpenting di sini adalah bahwa mereka dapat melipatgandakan perolehan dari energi yang diinvestasikan; dan bergantung pada bentuk perolehan kalori serta bagaimana hal itu digunakan, mereka harus bekerja lebih keras dan lebih lama untuk bisa bertahan hidup.

[7] Grafik (C.1.) ini menempatkan berbagai daerah dari segi garis regresi babi terhadap populasi manusia. Korelasi penting lain yang timbul adalah korelasi antara populasi babi dan gabungan populasi kambing an domba. Jika diteliti secara terpisah, korelasi babi dengan domba lebih dekat daripada dengan kambing. Hal ini memperlihatkan bahwa di daerah-daerah pemeliharaan babi yang intensif, mulai terjadi peralihan dari peternakan kambing ke peternakan domba. Dengan kata lain, tampaknya ada kecenderungan untuk mengalihkan secara berangsur-angsur peternakan kambing yang berkeliaran bebas ke peternakan domba yang digembalakan. Karena analisis ini adalah berdasarkan atas sejumlah penyelidikan yang terbatas, maka Fox menekankan bahwa penafsiran data ini harus dilakukan dengan hati-hati.

[8] Grafik (C.2) ini, secara barisentris, memperlihatkan grafik strategi dari perekonomian ini. Semua daerah ditempatkan dalam koordinat segitiga yang mewakili tiga jenis populasi hewan. Masing-masing koordinat memiliki skala dari 1 sampai 100, mulai dari dasar sampai ke ujung sudut. Satu sudut menunjukkan kerbau, yang kedua babi, dan yang ketiga kambing dan domba. Titik pertengahan dari semua perekonomian lontar ini adalah keseimbangan yang hampir sempurna dari ketiga jenis peternakan: 0.35 kerbau; 0.34 babi; 0.31 kambing/domba. Titik itu terletak dekat pusat gambar, dan dapat dilihat dengan jelas bagaimana berbagai daerah menyimpang dari titik strategi ini. Daerah bagian barat Pulau Rote, Ndao dan Sawu berkelompok di satu sisi dari segitiga; daerah bagian timur Pulau Rote di sisi yang lain. Yang merupakan dasar keanekaragaman dari strategi perekonomian setempat adalah kecenderungan yang jelas dalam perekonomian pelem (lontar) di daerah itu.

[9] Angka-angka populasi ini berasal dari sumber-sumber berikut: tahun 1824, Kruseman (1824); tahun 1831, Francil (1832); tahun 1863, Jackstein (1864); untuk 1879, Ridel (1889); tahun 1885, Wichmann (1882); tahun 1921, Koopmans (1921); tahun 1930, Volkstelling 1936, tahun 1954 dan 1957, Gyanto (1958); tahun 1961, Symposium (1967); dan tahun 1971, Sensus Penduduk (1972).

[10] Bagian kedua dari studi Fox ini adalah meliputi hubungan antara suku-suku bangsa dalam sejarah selama tiga abad, dalam analisis periodik. Titik tolaknya adalah pertengahan abad ketujuh belas, sedangkan perhatian utamanya adalah pertanian, politik, dan keadaan pulau-pulau tersebut pada waktu kedatangan Belanda. Berdasarkan beberapa alasan, jelas bahwa pusat pembicaraan keseluruhannya adalah Rote dan Sawu. Catatan tersebut menggambarkan penentuan ciri-ciri sosial dan ekonomi yang ikut menentukan keadaan yang akan diuraikan.

[11] Istilah ini dikembangkan oleh Emmanuel Le Roy Ladurie (1977) dalam tulisannya yang berjudul “Recent Historical ‘Discoveries’”, pada jurnal Deadalus, 106: 141-55, yang kemudian menjadi trend bagi para antropolog dalam melebarkan batas-batas pengetahuan mereka yang selama ini terkotakkan.

[12] Acuan yang digunakan dalam studi mengenai etnografi ini dapat dilihat pada tulisan-tulisan, seperti Margaret Mead “Visual Anthropology in a Discipline of Words”; Emile de Brigade “The History of Ethnographic Film”; Gerald Temaner & Gordon Quinn “Cinematic Social Inquiry”; Colin Young “Observational Cinema”; Roger Sandall “Ethnographic Film Documents”; Alexei Y. Peterson “Some Methods of Ethnographic Filming”; Using Film is Teaching Anthropology: One Pedagogical Approach”; dan Jamshed Mavalwala “The Use of Television in Teaching Anthropology”, dalam Paul Hockings (1975)Principles of Visual Anthropology (ed.). Chicago, Illinois: Aldine-Mouton Publishers.

[13] Spencer Tunick mengaggap bahwa kulit adalah bahan mentah seni. Pemikirannya adalah bahwa orang-orang yang menjadi sampelnya ingin mengembalikan kekuatan dan hak milik atas kulit mereka.

[14] Chris Rainer memotret budaya di Ethiopia Selatan yang melakukan seni kuno dengan menghias tubuh. Sebelumnya ia berkeliling dunia mulai dari Pasifik Selatan, Asia, Afrika, Amerika Utara, dan Eropa untuk mendokumentasikan pembuatan tatto dan pencacahan dengan cambuk, pisau, dan benda-benda tajam lainnya. Ia menganggap kegiatannya sebagai penterjemahan dari budaya tradisional hingga budaya modern yang kontemporer.

[15] Melanin adalah molekul kuno yang dibuat dalam kulit oleh sel-sel pigmen kecil mirip bintang laut berlengan fleksibel. Sel-sel ini memakai lengan bagai selang yang memompa melanin ke sel kulit terdekat saat dirangsang sinar matahari. Saat sel-sel itu naik ke permukaan, mereka melindungi tubuh dengan perisai kecil yang terbuat dari melanin.

[16] Jablonski sendiri berpegang teguh pada teori evolusionistik berdasarkan penulusuran genetika yang menyatakan bahwa selama berabad-abad, banyak generasi manusia bermigrasi dari Afrika ke wilayah dengan sinar UV lebih sedikit, di mana mereka membutuhkan lebih sedikit perlindungan dari matahari. Dari situ, Jablonski meyakini bahwa warna kulit manusia menjadi lebih terang. Hal ini berarti bahwa warna kulit hanyalah penyesuaian akan dunia sekitar kita.