Senin, 04 Januari 2010

TENTANG PENAFSIRAN QURÁN DENGAN BAHASA LAIN

Hendra Kurniawan

NPM 7101090337

Ulumul Qurán dan Metodologi Tafsir

Dr. Muhammad Luthfi Zuhdi

Program Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam

Universitas Indonesia

24 September 2001

TENTANG PENAFSIRAN QURÁN DENGAN BAHASA LAIN

I. Prolog

Penafsiran Qurán dengan yang bukan bahasanya, atau dengan kata lain; proses penerjemaham secara interpretasi terhadap Qurán, adalah pembahasan yang kita lihat secara substantif ketika ia mempunyai kaitan erat dengan permasalahan unsur leksikal dan proses terjemahan harfiah.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang permasalahan tersebut, akan sangat membantu bagi kita jika secara singkat mencoba menelaah tentang makna terjemah itu sendiri dengan berbagai macam pembagiannya, kemudian menjabarkan klasifikasi tentang mana-mana yang masuk ke dalam pembahasan tafsir dan mana-mana yang tidak masuk ke dalamnya.

Pemahahaman kata terjemah dalam bahasa mempunyai dua makna: Pertama, dalam arti mentransformasikan sebuah ungkapan dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain, tanpa memberikan penjelasan kepada makna asli yang diterjemahkan. Hal ini bisa berupa peletakan persamaan tempat ke dalam persamaan lain dari suatu bahasa. Pengertian kedua, adalah menginterpretasikan sebuah ungkapan dengan menjelaskannya ke dalam bahasa lain.

Atas dasar ini, maka terjemah dengan sendirinya terbagai ke dalam dua bagian; terjemahan menurut kata-kata ( ترجمة حرفية ), dan terjemah menurut arti atau interpretasi ( ترجمة معنوية او تفسيرية ). Adapun pengertian terjemahan secara kata-kata adalah proses memindahkan sebuah ungkapan dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain, yang memperhatikan keserasian susunan dan tertibnya, dengan tetap menjaga seluruh makna asli dari yang diterjemahkan. Sedangkan terjemahan secara makna atau tafsiriah adalah penjabaran sebuah ungkapan dan penjelasan maknanya ke dalam bahasa lain, dengan mengindahkan keserasian dan penjagaan terhadap makna asli tersebut di atas.

Yang kita maksudkan dalam pembahasan kali ini bukanlah masalah boleh atau tidak bolehnya kedua proses terjemah tersebut, atau beberapa tinjauan para ilmuwan terdahulu maupun kontemporer tentang hal itu. Akan tetapi yang kita tinjau di sini adalah mengenai; metode yang mana dari kedua terjemah tersebut yang masuk ke dalam pembahasan tafsir? Apakah terjemah harfiah yang dimaksud? Atau yang secara maknawi? Atau bahkan keduanya secara bersamaan?

II. Terjemah Harfiah Terhadap Qurán

Terjemah harfiah ini—menurut Husein Dzahaby—bisa berupa terjemah dengan yang semisalnya ( ترجمة بالمثل), atau bisa pula berupa terjemah yang tidak dengan semisalnya ( ترجمة بغير المثل ). Terjemah harfiah dengan yang semisalnya adalah proses menerjemahkan susunan Qurán dengan bahasa lain, dimana mufradat dan uslub nya ditempatkan menurut susunan aslinya, sehingga terjemahan tersebut mengandung susunan makna asli yang terikat dengan kaidah-kaidah balaghiah dan hukum-hukum tasyri. Hal ini menjadi tidak mungkin diterapkan terhadap Qurán, karena pada dasarnya Qurán itu sendiri memiliki dua maksud dan tujuan yang paling mendasar.

Di antara maksud-maksud Qurán itu adalah: Pertama, bahwa ia berfungsi sebagai bukti petunjuk kebenaran risalah Tuhan yang disampaikan kepada nabi, dalam konteks sebagai mukjizat yang tak tertandingi baik oleh jin maupun manusia. Aplikasi terjemah untuk hal ini menjadi tidak mungkin. Karena Qurán—meskipun íjaz dalam kalimat-kalimatnya memiliki banyak arti dalam setiap ayat-ayatnya (seperti hal-hal yang bersifat metafisik, kaidah hukum Tuhan tak dapat dirasionalkan, dan lain sebagainya)—berkisar pada spesifikasi balaghah dalam kaidah-kaidah tertentu, yang menurut kesepakatan tidak mungkin dapat dipindahkan arti ke dalam bahasa lain.

Sebuah bahasa yang detail, meskipun memiliki unsur balaghah, namun pada kenyataanya tiap-tiap bahasa pun memiliki kekayaan bahasa tersendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Maka, jika Qurán diterjemahkan dengan menggunakan metode terjemah harfiah, akan menjadi jauh dari apa yang diharapkan, karena akan kehilangan spesifikasi balaghah dalam bahasa Qurán, dan menjadikan mukjizat Qurán ke level yang dapat diintervensi oleh manusia .

Tujuan yang kedua dari Qurán, dalam pengambilan hukum-hukum dan petunjuknya, adalah sebagai pedoman yang menjadi tuntunan hidup bagi manusia baik di dunia maupun di akhirat, yang sebagian dari pada isinya kembali kepada makna asli dalam pemahaman dan pelaksanaannya bagi setiap individu. Oleh karena konteksnya dapat diperkuat semua bahasa, maka makna yang semacam ini memungkinkan sekali untuk dapat diterjemahkan untuk proses pengambilan hukumnya.

Sebagian lain dari hukum-hukum dan petunjuk yang diambil dari makna-makna maksud yang kedua, banyak kita dapati pada pemahahan para mujtahid terdahulu. Makna-makna dalam maksud yang kedua ini menjadi suatu keharusan bagi Qurán. Karena tanpa makna-makna tersebut dengan sendirinya tidak bisa dikatakan sebagai Qurán. Jika terjemah harfiyah meskipun mungkin dapat menjaga apa yang dimaksudkan oleh makna-mana maksud yang pertama, tetap saja tidak akan bisa menjaga makna-makna dalam maksud yang kedua. Sebab yang demikian itu di satu sisi dipakai dalam Qurán dan terkadang tidak diterapkan dalam bahasa lain.

Sedangkan terjemah harfiah yang tidak dengan semisalnya adalah menerjemahkan susunan Qurán sesuai kadar kemampuan dan keluasan wawasan bahasa penerjemah. Hal ini mungkin dan boleh saja dilakukan, jika dalam konteks menerjemahkan percakapan orang. Namun hal ini menjadi tidak mungkin jika hal tersebut dinisbatkan terhadap Qurán. Karena bagi pelakunya, bisa saja menimbulkan berbagai hal-hal yang justru dapat mengakibatkan kehilangan makna, atau bahkan keotentikannya.

III. Apakah Terjemah Harfiah Sebagai Tafsir Qurán?

Dengan mengungkapkan beberapa alasan dalam penjelasan sebelumnya, yang sesuai dengan kenyataan bahwa tidak dimungkinkannya proses terjemah harfiyah baik dengan yang semisalnya maupun yang tidak dengan semisalnya terhadap Qurán, jika ada orang yang masih menganggap mungkin, maka akan ada tersisa sebuah permasalahan: Apakah terjemah harfiah dengan beberapa pembagian didalamnya—yang memungkinkannya dalam maksud pertama dan membolehkan-nya dalam maksud kedua—bisa disebut tafsir terhadap Qurán dengan bahasa lain? Atau apakah ia tidak masuk dalam substansi tafsir?

Jawaban yang bisa mendekati pertanyaan di atas barangkali bahwa terjemah harfiah yang dengan semisalnya itu tidak bisa menjadi landasan kemungkinan dimasukannya ke dalam tafsir Qurán dengan bahasa lain, karena hanya merupakan gambaran kerangka Qurán itu sendiri. Kecuali jika gambaran tersebut berbeda secara dua bahasa; menurut bahasa sumber dan bahasa sasasrannya. Untuk itu, bahasa saaran membutuhkan penafsiran dan penjelasan hukum dan sesuatu yang tersembunyi, sebagaimana bahasa Arab itu sendiri membutuhkan hal yang demikian. Sesuai kebutuhan, terjemah tersebut tidak memakai keterangan dan penjelasan. Yang ada hanya proses penggantian dari suatu ucapan ke ucapan lain, dan memindahkan makna asli dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain.

Adapun terjemah harfiyah yang tidak dengan semisalnya, dalam hal ini tidak dapat dinisbatkan terhadap Qurán. Kalaupun boleh, tidak termasuk dalam pembahasan tafsir dengan bahasa lain. Karena juga merupakan gambaran dari kerangka Qurán yang masih kurang dan belum sempurna. Tidak terdapatnya penjelasan terhadap hukum dan sebagainya itu, menjadikan proses terjemah ini hanya sekedar mencocok-cocokan satu ucapan dengan ucapan lain yang bisa mendekati maknanya.

IV. Terjemah Tafsiriah Terhadap Qurán

Bentuk terjemahan tafsiriah dilakukan dengan cara memahami maksud makna aslinya, kemudian dirangkai ke dalam bahasa sasaran yang sesuai dengan maksud dan tujuan kata sebelumnya.

Kadar perbedaan antara terjemah harfiah dengan terjemah maknawiah atau tafsiriah, dalam penjelasan contoh sebagai berikut:

Jika seseorang ingin menerjemahkan ayat: ( ولاتجعل يدك مغلولة الى عنقك ولا تبسطها كل البسط ) dengan menggunakan terjemah harfiah, maka arti yang ada adalah larangan mengikat tangan pada leher, serta memanjangkan sepanjang-panjangnya. Ungkapan semisal dalam bahasa sasaran ini barangkali tidak mengenai sasaran sekaligus tidak dimaksudkan oleh Qurán. Bagi pemakai bahasa sumbernya jelas tidak akan menerapkan larangan tersebut. Sebab, secara logis, pemahaman seperti ini tidak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Qurán di balik perumpamaan larangan tersebut. Maka akan terasa menggelikan jika ada orang yang melakukan tindakan tidak logis semacam.

Namun, jika ingin menerjemahkannya dengan metode terjemah maknawiah atau tafsiriah, arti yang ada adalah larangan berbuat kikir dan bertindak boros. Gambaran seperti ini sekilas terkadang bisa jauh dari pemahaman seseorang. Akan tetapi akan sesuai dengan uslub bahasa sasarannnya dan sesuai dengan kebanyakan orang yang terbiasa dengan ungkapan tersebut. Dari sini akan jelas bahwa tujuan yang dikehendaki ayat tersebut akan dapat dipahami dengan mudah dan gamblang jika jika ada keserasian antara bahasa sumber dengan bahas sasaran. Dan metode terjemah maknawiah atau tafsiriah-lah yang mendekati terhadap pemahaman tersebut, bukan terjemah harfiah.

Terasa mudah bagi kita dan bagi semua orang mengatakan bahwa kita dapat menerjemahkan Qurán secara terjemah maknawi dengan tanpa berbagai kesalahan mendasar. Untuk itu, menerjemahkan Qurán secara maknawiah atau tafsiriah tidak lain adalah tafsir terhadap Qurán selain dengan bahasanya.

Menurut kesepakatan para ilmuwan, diperbolehkannya penafsiran Qurán bagi seorang ahli tafsir dalam batas kadar kemampuan manusia, tanpa mencakup seluruh apa yang dimaksudkan Qurán, terjemah secara maknawi terhadap Qurán pun masuk kedalam kesepakatan tersebut. Karena definisi terjemah tafsiriah diambil dari definisi tafsir, bukan dari definisi asli Qurán.

Jika tafsir mengandung penjelasan dan penjabaran makna asli, dengan mengupas lafadz-lafadz yang dibutuhkan untuk memahaminya serta menjelaskan maknanya, serta merinci apa-apa yang perlu dirinci secara detail, memecahkan masalah apa-apa yang perlu dipecahkan, menetapkan dalil-dalil apa yang perlu ditetapkan, maka maka terjemah tafsiriyah pun mengandung keseluruhan sebagaimana yang dikandung oleh tafsir. Karena ia merupakan terjemah terhadap tafsir, bukan terjemah terhadap Qurán.

Singkat kata, bahwa setiap tafsir dan terjemahannya merupakan penjelasan terhadap satu sisi atau bahkan banyak sisi dalam Qurán, yang tidak akan terangkum kecuali oleh yang menurunkannya dengan bahasa Arab yang jelas. Bukan pula salah satu di antaranya yang hanya sekedar menggantikan lafadz Qurán dengan lafadz lain. Akan tetapi bagaimana agar dapat menyusun dan menunjukan makna-maknatersebut dalam Qurán dari segala aspek.

V. Perbedaan Antara Tafsir dan Terjemah Tafsiriah

Kalau kita teliti lebih dalam, dimungkinkan sekali untuk membedakan antara tafsir dan terjemah tafsiriyah dari dua sisi;

Sisi pertama, adalah mengenai perbedaan dua bahasa. Bahasa tafsir terjadi dengan bahasa asli. Sebaliknya, terjemah tafsiriah terjadi dengan bahasa lain. Sisi kedua, dimungkinkan bagi seorang pembaca dan pemaham tafsir untuk mempela-jari susunan asli bahasa berikut petunjuknya. Jika ditemukan kesalahan dengan segera ia akan mengoreksi dan memperbaikinya. Walau pun ia saat itu tak sempat memperhatikan kesalahannya, maka orang lain pun akan turut memperhatikan kesalahan itu.

Sedangkan bagi seorang pembaca terjemah tafsiriah jelas akan mengabaikan hal tersebut, disebabkan oleh ketidaktahuannya mengenai susunan Qurán dan petunjuk-petunjuknya. Akan tetapi apa yang ia pahami dan ia yakini dari terjemahan yang ia baca, akan dipahami maknanya sebagai tafsir yang benar terhadap Qurán. Adapun kembalinya pemahaman kepada yang asli dan perbandingannya dengan terjemah bukanlah dari apa yang masuk di bawah kemampuannya selama ia ia tak tahu bahasa Qurán.

Ada beberapa persyaratan spesifik yang mungkin dapat membedakan antara tafsir dengan terjemah tafsiriyah. Persyaratan ini dikhususkan untuk menerjemah-kan Qurán dengan terjemah tafsiriyah yang baik dan benar:

  1. Seorang penerjemah haruslah berpijak pada tafsir dan menjadikan terjemahannya bersandar pada hadits-hadits nabi, ilmu-ilmu bahasa, ilmu-ilmu fiqih, dan lain sebagainya—yang dapat menambah wawasan serta keluasan bahasa si penerjemah.
  2. Seorang penerjemah haruslah jauh dari kecenderungan kepada keyakinan yang dangkal dan bertentangan dengan termasuk apa yang datang dari Qurán. Syarat ini pun termasuk bagi seorang penafsir.
  3. Seorang penerjemah sepatutnya mengetahui dua bahasa yang mendukung proses penerjemahan ; bahasa sumbernya dan bahasa sasarannya. Termasuk mengetahui hal-hal yang spesifik dalam kedua bahasa tersebut.
  4. Menuliskan Quránnya terlebih dahulu, kemudian kemukakan tafsirnya. Dari sini baru mulai proses terjemah secara tafsiriah, sehingga seseorang tidak lagi merasa ragu untuk membedakan apakah terjemahan tersebut merupakan terjemah harfiah.

V. Epilog

Tafir Qurán adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang diwajibkan bagi umat Islam untuk mempelajarinya. Dan terjemah tafsiriah adalah tafsir Qurán dengan bahasa lain, yang juga merupakan perkara yang diwajibkan kepada umat Islam. Bahkan hampir-hampir mencakup segala aspek penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Seperti penyampaian makna Qurán dan hidayahnya baik kepada kaum muslim maupun non muslim, yang tidak berbicara dan paham bahasa Arab.

Disamping itu juga berperan sebagai pelindung aqidah Islam dari celaan kaum atheis, dan pertahanan terhadap Qurán dengan menyingkap kesesatan yang sengaja dibuat kaum misionaris dengan bersandar pada terjemah Qurán dan membuat terjemah yang disusupi dengan pemahaman yang merusak dan menyesatkan bagi orang-orang yang memang tidak memahami bahasanya dengan gambaran baik yang bertolak belakang maupun menyerupainya.

Daftar Pustaka:

  1. Abou Zaid, Nasr Hamid. Falsafatu Ta’wil. Beirut, 1998, Markaz Tsaqofy Araby.
  2. Abou Zaid, Nasr Hamid. Mafhum an Nashl. Beirut, 1998, Markaz Tsaqofy Araby.
  3. Dzahaby, Muhammad Husein. Tafsir wal Mufasirun. Kairo, 1989, Maktabah Wahbah.
  4. Suyuty. Al Itqon fi Ulumil Qurán. Kairo, 1997, Maktabah Dar Turats.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar